Dua
tahun sudah Prabowo Subianto berkuasa dan memimpin Republik Indonesia. Sebuah
periode waktu yang cukup untuk menuliskan catatan-catatan penting agar sisa
tiga tahun kepemimpinannya berjalan lebih ideal. Dibaca atau tidak, saya harus
menuliskan ini.
Siapa
pun pasti sepakat selama dua tahun terakhir, Indonesia di bawah kepemimpinan
Prabowo dibawa mengikuti selera dan cita rasa dirinya. Saya bukanlah pemilih
Prabowo dan saya menyadari betul alasan-alasan personal saya mengapa saya tidak
memilihnya pada Pilpres 2024 lalu. Setidaknya, satu per satu kekhawatiran saya
kini menjadi kenyataan. Salah satu yang menonjol adalah menguatnya militerisme
dalam ruang-ruang sipil yang semestinya tidak perlu. Misal, adanya kewajiban
mengikuti retreat bagi menteri dan kepala daerah terpilih di Akademi Militer
Magelang yang bertujuan mendisiplinkan mereka agar tidak korupsi, tapi ujungnya
banyak juga yang tertangkap tangan KPK akibat korupsi. Adanya pelatihan
bercorak militeristik bagi warga sipil biasa seperti pelatihan bagi calon
manager koperasi desa merah putih yang berujung pada tewasnya 5 peserta
pelatihan.
![]() |
| Sumber Gambar: |
https://chatgpt.com/c/6ad69843-0ab0-83ec-8b33-ff6b770bdf0d
Selain
itu, dalam dua tahun terakhir kita dapat melihat bagaimana Prabowo dengan
asyiknya membagi kue-kue kekuasaan kepada pihak-pihak yang dianggap berjasa
mengantarkan dirinya menjadi presiden, penguasa, dan pengendali politik
pemerintahan Indonesia. Saya dapat memahami hal ini sebagai cara dia berterima
kasih. Berkat kerja-kerja politik yang dilakukan tim suksesnya di Pillpres 2024
yang penuh dengan kontroversi itu, ambisi besar Prabowo untuk memimpin
Indonesia berhasil terwujud. Di satu isi ini normal. Namun, menjadi tidak wajar
jika kemudian melebihi batas-batas kewarasan.
Kabinet
pemerintahan menjadi super gemuk, satu pos kementerian, menterinya satu orang,
namun wakil menterinya sampai tiga orang. Nomenklatur kementerian-lembaga lama
dipecah menjadi pos kementerian/lembaga baru untuk menampung loyalis-loyalis
politiknya. Data menunjukkan ada sekitar
49 menteri dan 57 wakil menteri kini berada di singgasa kekuasaan
Prabowo. Walhasil, belanja negara dipastikan membengkak, padahal pada waktu
bersamaan, Prabowo menyerukan pentingnya efisiensi anggaran. Aneh, pihak lain
seperti pemda diminta efisien namun dirinya tidak perlu efisien. Akibat perilaku
bagi-bagi kekuasaan ala Prabowo yang acapkali kurang mempertimbangkan aspek
meritokrasi, tidak sedikit dari penikmat kekuasaan yang kemudian terseret kasus
hukum karena terlibat korupsi. Sebut saja eks Wakil Menteri Ketenagakerjaan
yang sudah divonis empat tahun, terbaru ada ada eks Kepala Badan Gizi Nasional
yang kini sedang proses diadili.
Selain
itu, dewasa ini kita dapat melihat adanya sentralisasi kekuasaan yang memangkas
wewenang dan ruang fiskal pemerintah daerah termasuk dana desa. Imbasnya,
daerah-daerah dan desa-desa otonom banyak yang mengeluh anggaran operasionalnya
berkurang dan bahkan tidak sedikit pemda dan pemdesa yang merasa tidak lagi
leluasa dalam menjalankan agenda pemerintahan daerah. Padahal konstitusi dengan
jelas mengatur hak-hak keuangan pusat dan pemerintah daerah. Undang-undang Desa
juga mengatur secara jelas hak keuangan pemerintah desa. Mengapa hal ini
seperti ini terjadi? Jawabannya, demi melaksanakan agenda politik nasional yang
memakan banyak anggaran negara. Sebut saja program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang
pada praktiknya sering menimbulkan tragedi keracunan bagi para penerima manfaatnya.
Keracunan massal berulangkali terjadi tanpa ada jaminan kapan kasus tersebut
dapat berhenti total. Saya tidak menolak niat baik memberi makan bergizi bagi
anak-anak bangsa yang memang kurang beruntung dan karenanya butuh intervensi
negara sehingga dapat menikmati makanan bergizi secara cuma-cuma.
Poin
saya, tidak semua anak butuh MBG apalagi di daerah-daerah yang tidak masuk
kategori terluar, tertinggal, terdepan (3T). Jika niatnya adalah untuk
memperbaiki gizi anak, maka yang perlu segera menjadi prioritas dari kerja
politik pemerintah adalah anak-anak rawan stunting yang ada di daerah Indonesia
timur di mana mereka memang jauh dari jangkauan dan akses kemapanan hidup.
Jangan justru di Jawa dan Sumatra yang secara data tidak terlalu mendesak sehingga
butuh campur tangan segera dari negara. Jawa dan Sumatra memang sangat seksi
secara suara politik, namun, jika niatnya memang untuk mewujukan keadilan
sosial, seharusnya yang paling pertama diperhatikan adalah mereka yang ada di
pinggiran. Secara politik anggaran, program MBG mendapatkan porsi anggaran
paling besar dan mengalahkan porsi anggaran pendidikan yang secara khusus
disebutkan dalam konstitusi harus mendapat porsi 20 persen dari total anggaran
pendapatan belanja negara. Namun, nyatanya kalah dari MBG gara-gara dianggap
lebih strategis dari program pendidikan.
Berdasarkan
data, anggaran MBG pada tahun fiskal 2025 sebesar Rp71 triliun dan pada tahun
fiskal 2026 naik menjadi Rp229 triliun dan pada tahun 2027 melonjak menjadi
Rp240 triliun. Sebuah angka yang tidak sedikit, namun efektivitasnya patur
dipertanyakan, apakah sudah sesuai dengan tujuan program atau justru menambah
masalah baru? Yang sudah tampak berdasarkan bukti-bukti empiris, program MBG
menjadi sarang korupsi baru. Buktinya, Kepala BGN-nya yang secara displin
keilmuan pakar di bidang serangga bukan di bidang gizi harus ditahan Kejaksaan
Agung dan kini sedang diadili. Tragisnya, yang terlibat korupsi bukan inidividu
tunggal seorang kepala BGN, namun, juga ada dua unsur pimpinan BGN lain yang
terlibat korupsi. Terbaru, ada satu unsur pimpinan BGN berlatarbelakang TNI
aktif yang juga ditetapkan sebagai tersanngka oleh Kejaksaan Agung. Dari sini
saja, kita dapat menilai kalau MBG sudah menciptakan masalah baru.
Tata
kelola yang buruk, praktik korupsi dan inefisiensi yang nyata terjadi,
keracunan massal yang tidak pernah berhenti adalah bukti MBG penuh masalah dan
semestinya benar-benar direformasi total, disetting ulang menjadi lebih
efisien, bersih dari praktik korupsi, menerapkan asas meritokrasi, dan yang
paling penting gunakan prinsip skala prioritas, siapa yang paling berhak, siapa
yang paling membutuhkan MBG, itulah indikatornya. Jangan ada lagi sekolah elit
dan anak orang kaya bergizi melimpah malah mendapat MBG. Itu namanya pemborosan
dan salah sasaran.
Borosnya
anggaran negara untuk membiayai program-program politik Prabowo seperti MBG dan
terbaru program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) tak pelak membuat pemerintah
harus putar otak mencari pinjaman. Dalam kurun waktu belum genap dua tahun
berkuasa, Prabowo berhasil menambah hutang luar negeri Indonesia sebesar
Rp1.819,79 triliun alias meningkat 21.5% sehingga total utang luar negeri
Indonesia hingga Juni 2026 mencapai Rp10.293,69 triliun, dari yang sebelumnya
Rp8.473,90 di akhir September 2024. Sebuah realitas yang membalikkan idealisme
pribadi Prabowo saat masih menjadi oposisi Jokowi, bahwa dirinya anti utang dan
tidak suka utang. Ternyata praktiknya memang susah, politik sukses mengubah
idealisme. Akibat kondisi fiskal Indonesia yang seperti ini di mana dana negara
bayak dibelanjakan untuk sektor-sektor nonproduktif yang rawan dikorupsi,
seperti MBG dan belum terbukti menggerakkan perekonomian seperti KDMP, fakta
menunjukkan banyak investor yang menarik modal asing mereka keluar dari
Indonesia. Akibatnya, kurs rupiah terus melemah. Hingga kini, kurs rupiah ke
dollar AS bertahan di kisaran Rp18.046 per 1 USD (data 20 Oktober 2026), terlemah
sepanjang Indonesia berdiri.
Lebih
dari itu, dengan direvisinya Undang-Undang TNI dan Undang-Undang Polri yang
memungkinkan personil TNI/Polri berkiprah di luar tugas utama mereka sebagai
penjaga keamanan dan pertahanan. Indonesia dalam dua tahun kepemimpinan Prabowo
rupanya coba dibawa ke alam Orde Baru dengan misal menempatkan personil
TNI/Polri di jabatan-jabatan sipil. Presiden berkuasa menunjuk orang-orangnya
dari kalangan TNI/Polri untuk menduduki jabatan-jabatan strategis di
pemerintahan. Misalnya, jabatan Sekretaris Kabinet yang dipercayakan kepada
perwira aktif bernama Teddy Indra Wijaya dan contoh lain silakan diriset
sendiri. Saya dapat memahami Prabowo latar belakangnya militer dan ternyata
lebih nyaman bekerja dengan gaya atau pola militer. Padahal, SBY meski militer,
sepanjang berkuasa 10 tahun tidak pernah menonjolkan sisi kemiliterannya.
Premis
tentang cita rasa Orde Baru semakin jelas, ketika pada 10 November 2025,
Prabowo dengan bahagia memberi gelar Pahlawan Nasional kepada Suharto, penguasa
Orba selama 32 tahun yang juga mantan mertuanya. Bagi saya pribadi, pemberian
gelar pahlawan kepada Suharto tidak terlalu mengejutkan karena saya sudah
menduga bahwa salah satu agenda besar Prabowo jika ambisinya menjadi Presiden
Indonesia terwujud adalah menjadikan Suharto sebagai Pahlawan Nasional.
Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang penganugerahan
gelar Pahlawan Nasional kepada Suharto rupanya digugat ke Pengadilan Tata Usaha
Negara oleh Gerakan Masyarakat Adili Soeharto (GEMAS) yang keberatan tokoh
kontroversial seperti Suharto diberi gelar Pahlawan Nasional.
Siapa
pun tahu sepanjang 32 tahun Orde Baru berkuasa, praktik otoriterianisme,
pelanggaran hak asasi manusia seperti penembakan misterius dan penculikan
aktivis nyata terjadi, pers diberedel, suara kritis dibungkam, KKN tumbuh subur
hingga berujung terjadinya krisis multidimensi yang kemudian memaksa Orde Baru
harus berhenti dan undur diri. Alasan-alasan objektif seperti inilah yang
mendasari penggugat melakukan gugatan terhadap gelar Pahlawan Nasional yang
diberikan Prabowo kepada Suharto. Saya mendukung langkah gugatan ini dengan
alasan untuk menjaga akal waras. Bahwa meski presiden memiliki hak prerogatif
untuk memberikan gelar pahlawan, aspek kelayakan, kepatutan, dan menghindari
konflik kepentingan itu jauh lebih penting dari sekadar pertimbangan pendek,
mumpung saya berkuasa. Dengan dijadikannya Suharto sebagai pahlawan nasional,
orang-orang kritis pastilah akan berpikir, standar untuk menjadi Pahlawan
Nasional berarti cukup mencontoh lika-liku Suharto yang kontroversial dan
menjadikannya sebagai role model. Apakah ini yang dimaksud Prabowo
menganugerahi Suharto sebagai pahlawan nasional?
Lebih
lanjut, saya ingin menyoroti sisi personil Prabowo sepanjang dua tahun terakhir
berkuasa dan memimpin politik pemerintahan Indonesia. Poin saya terkait ini, tolonglah
komunikasi politiknya lebih ditata lagi. Tidak perlu menyerang media, pers, aktivis,
dan pakar yang kritis terhadap pemerintah dengan diksi yang tidak bermartabat.
Menyebut orang yang kritis, vokal terhadap pemerintah sebagai Antek Asing,
Londo Ireng, Dan Goblok itu sudah kebablasan. Ingat, seorang pemimpin nasional
itu cermin moral suatu bangsa. Jika pucuk pimpinanannya seperti ini, bagaimana dengan
yang dipimpin? Kata pepatah lama, ikan busuk selalu dari kepala. Guru kencing
berdiri, murid kencing berlari. Menjadi seorang pemimpin itu harus siap
dikritik, dihujat, dan diingatkan. Semuanya memang tidak enak, tapi, itulah
konsekuensi yang harus diterima dari pilihan menjadi pemimpin. Tidak perlu
baper dan reaktif lalu mengeluarkan diksi-diksi yang tidak produktif. Jadi,
mestinya suara-suara kritik itu dijadikan motivasi untuk memperbaiki kinerja
pemerintah bukan malah dianggap sebagai penghambat dan pengganggu.
Saat
tulisan ini sedang diproses, pada 17 oktober 2026, Lembaga Riset Saiful Mujani
Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei terbaru mereka. Menariknya,
berdasarkan hasil survei terbaru SMRC yang dilakukan pada periode 1–10 Oktober
2026, angka kepuasan rakyat terhadap kinerja Prabowo berada di angka 44.5%
(Oktober 2026). Angka ini menurun tajam (36.7%) jika dibandingkan dengan angka
kepuasan rakyat terhadap Prabowo pada November 2025 yang berada di angka 81.2%.
Selain fakta tersebut, hasil survei terbaru SMRC juga melaporkan tingkat
keterpilihan (elektabilitas) Prabowo yang berada di angka 9.8% dan menempatkan
Prabowo berada di bawah angka elektabilitas Dedi Mulyadi (35.5%) dan persis di
bawah angka elektabilitas Anies Baswedan (10.3%). Angka ini menunjukkan adanya
tren penurunan elektabilitas Prabowo yang sangat signifikan jika dibandingkan
dengan survei serupa yang dilakukan pada Juli 2026 (14,5%) dan pada Maret 2026
(33,3%).
Angka-angka
hasil survei di atas setidaknya memperlihatkan kondisi nyata suara akar rumput
terhadap kinerja kepemimpinan Prabowo. Masih merujuk pada temua survei SMRC,
jebloknya angka kepuasan publik terhadap Prabowo dan anjloknya elektabilitas
Prabowo di mata pemilih penyebabnya karena variabel-varibel seperti melonjaknya
harga kebutuhan pokok, meningkatnya kasus korupsi, serta ketidakpuasaan
masyarakat terhadap program unggulan Prabowo seperti MBG dan KDMP.
Masa pemerintahan Prabowo tinggal tiga tahun lagi. Saya masih penasaran, apakah di sisa tiga tahun terakhir ini performa Prabowo berangsur membaik? dan apakah ambisi besarnya menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 8 persen tercapai? Layak ditunggu wujud konkretnya.

0 Response to "Catatan Dua Tahun Kepemimpinan Prabowo "
Post a Comment