Adalah petaka besar jika ada
seorang pemimpin merasa bahwa standar moral pribadi yang menjadi landasan ia
bersikap dan berperilaku. Ia tidak lagi menjadikan hukum positif, hukum
nasional, dan hukum internasional sebagai dasar nilai ia mengambil suatu
kebijakan yang berdampak luas bagi masyarakat umum. Di panggung politik global,
kita dapat menyaksikan bagaimana seorang Presiden Amerika Serikat Donald Trump
adalah petaka itu sendiri.
Trump dengan gampangnya
menyatakan bahwa ia tidak lagi terikat dan percaya hukum internasional karena
ia mendasarkan segala hal yang menjadi kebijakan politiknya pada standar moral
pribadi bukan kepada yang lain. Alhasil, kita dapat melihat bagaimana kondisi
dunia saat ini? Carut-marut dan penuh gejolak. Semuanya terjadi karena sikap
semaunya Trump. Negara berdaulat seperti Venezuela dan terbaru negara berdaulat
seperti Iran ia serang hingga pecah perang sengit antara AS vs Iran di Timur Tengah
yang berlangsung hingga kini hanya untuk menperturutkan nafsu perang dan
menguasai negara orang lain.
![]() |
| Sumber Gambar: Anadolu Agency |
Apakah ini bagian dari perwujudan
Make America Great Again! (MAGA)? Jawabannya iya, MAGA adalah bagian dari
petaka itu juga. Akibat kampanye MAGA ini Trump dengan percaya diri melakukan
perang dagang dengan negara-negara di dunia, menetapkan tarif barang masuk
(impor) ke AS seenaknya. Padahal, Mahkamah Agung (MA) AS secara jelas telah
mengeluarkan putusan berkekuatan hukum mengikat yang melarang adanya pungutan
tarif lebih terhadap masuknya barang asing. Akibatnya, harga barang-barang
konsumsi di AS melonjak tajam sehingga yang dirugikan rakyat AS.
Trump dengan enteng juga
mengeluarkan perintah eksekutif untuk menyerang negara lain yang jelas menabrak
norma hukum internasional, menangkap pemimpin negara tersebut seperti yang
dialami eks Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Ia juga dengan tanpa dosa membunuh
pemimpin nasional suatu negara melalui target operasi militer AS seperti yang
terjadi pada pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Trump lebih jauh melakukan
intervensi ekonomi politik pasca perang seperti yang dialami Venezuela pasca
penyerangan terhadap Venezuela dan penangkapan presidennya. Ketidakpatuhan dan
pembangkangan terhadap hukum adalah pangkal dari petaka yang akan dilahirkan
oleh seorang pemimpin jika ia terus kukuh mempertahankan sikap tersebut.
Di level nasional Indonesia, kita dapat melihat bagaimana petaka telah ditimbulkan akibat sikap pemimpin yang abai dengan hukum dan konstitusi. Demi membiayai program politik nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah meracuni 50 ribu lebih penerima manfaat, hak-hak keuangan ratusan pemerintah daerah dipangkas hingga mereka kesulitan menyelenggarakan roda pemerintahan daerah. Selain itu, dampak buruk lainnya, iklim investasi Indonesia dinilai asing tidak cukup kompetitif dan tidak prospektif karena kondisi fiskal nasional dinilai rentan, rapuh, dan tidak sehat sehingga banyak modal asing yang keluar dari Indonesia. Akibatnya, kurs rupiah sempat mencapai Rp18.000 per 1 USD, tertinggi sepanjang Republik Indonesia berdiri. Pun demikian, demi menyenangkan sekutu-sekutu politik terdekat, putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang melarang pejabat negara merangkap jabatan lebih dari satu pos kementerian/lembaga/instansi pemerintahan pada waktu yang bersamaan rupanya harus diabaikan juga. Segalanya ditabrak, dilanggar, dan diacuhkan. Akibatnya, petaka terjadi, meritokrasi ditinggalkan, dan kepuasan politik tercapai.

0 Response to "Petaka Seorang Pemimpin"
Post a Comment