Salah satu fenomena mencengangkan
yang nyata terjadi di Indonesia adalah banyak oknum di republik ini yang
berlomba ingin menjadi koruptor baru. Satu kasus korupsi terungkap, kasus-kasus
korupsi baru sudah siap mengantre untuk dibongkar dan diproses. Belum beres
kasus korupsi program makan bergizi gratis yang melibatkan para pimpinan Badan
Gizi Nasional diproses secara hukum di pengadilan. Saat ini kasus megakorupsi
yang jauh lebih gila justru terjadi dan melibatkan seorang penegak hukum memangku
tanggung jawab sebagai Jaksa Muda Pidana Khusus Kejaksaan Agung (Kejagung) yang
otomatis kesehariannya berkesibukan menangkap para penjahat korupsi serta tindak
pidana lainnya.
![]() |
| Sumber: Antara Foto/Asprilla Dwi Adha |
Aneh benar negeri ini. Maka
pantas saja, di usianya yang akan genap 81 tahun pada 17 Agustus 2026
mendatang, Indonesia yang selalu bangga memiliki ideologi Pancasila, masih saja
tercecer dari bangsa-bangsa lain. Pendidikan kita gak maju-maju, daya saing
kita jalan di tempat, ekonomi kita macet di angka 5 persen. Pemicunya karena bangsa
kita korup, itu fakta. Namun, ironisnya, mengapa justru penyakit busuk ini
masih terus kita pelihara dan ada di tubuh bangsa kita? Kita bangga berlomba
menjadi koruptor bukan memeranginya.
Bangsa kita mayoritas muslim namun mengapa pula kita yang sering korup? Islam tidak pernah mengajarkan untuk korup, namun, bangsa ini yang mayoritas muslim justru lebih sering mengingkarinya. Hari ini korupsi, besok korupsi lagi, lusa korupsi ulang. Ada yang tahu mengapa ya banyak pribadi di negeri ini yang tergerak berlomba menjadi koruptor? Sudah memiliki pendapatan bulanan, tunjangan rutin, dan insentif lain yang menjadi haknya maish saja korup dan menyimpang? Apakah ini bentuk syukur level paling tinggi untuk dipersembahan kepada Sang Maha Pencipta? Atau malah wujud keserakahan dan ketamakan akibat terlalu banyak harta haram yang sudah kadung telanjur menjadi darah dan daging yang membungkus tubuhnya?

0 Response to "Berlomba Menjadi Koruptor"
Post a Comment