Perang Dingin dengan segala
dinamikanya sepanjang tahun 1947—1991 harus berakhir juga. Salah satu indikator berakhirnya Perang
Dingin adalah runtuhnya Tembok Berlin yang menandai bersatunya Jerman Berat dan
Jerman Timur. Perang perebutan pengaruh bermotifkan ideologi selama empat
dekade lebih tersebut menghasilkan satu pemenang tunggal, yaitu Amerika Serikat
dengan ideologi liberalisme dan kapitalismenya. Ini artinya, Uni Soviet dengan
sosialisme dan komunismenya praktis menjadi pihak yang tersisihkan dari
persaingan ideologis. Sebagai pihak yang kalah, Uni Soviet tentu tahu diri
bahkan jauh sebelum negeri tersebut bubar pada Desember 1991. Tulisan ini akan menyoroti
faktor mengapa Uni Soviet mengambil kebijakan mendukung reunifikasi Jerman
Barat dan Jerman Timur, padahal sebelumnya Uni Soviet adalah malaikat pelindung
bagi Jerman Timur dan tidak pernah rela negara panser bagian timur tersebut
menjadi bagian dari Jerman Barat yang berpihak pada Amerika Serikat.
![]() |
| Sumber Gambar: Britannica |
Uni Soviet barangkali tidak
seberuntung Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya yang secara ekonomi
politik tetap stabil meski harus menghadapi sengitnya persaingan Perang Dingin
melawan Uni Soviet dan negara-negara aliansinya. Dengan kata lain, menjelang
berakhirnya Perang Dingin, perkonomian Uni Soviet mengalami kemunduran alias
krisis parah pada 1989—1990-an. Bengkaknya anggaran untuk melindungi rezim komunis yang pro
terhadap Uni Soviet seperti di Jerman Timur, Hungaria, Czechoslovakia, Vietnam, Korea Utara, Afghanistan, besarnya dana yang
digelontorkan untuk proyek persaingan persenjataan, teknologi ruang angkasa,
dan banyaknya bantuan finansial yang harus dikeluarkan Uni Soviet untuk
memperebutkan pengaruh negara-negara di dunia agar berpihak pada ideologi
komunis adalah alasan logis mengapa mendekati dekade 1990-an Uni Soviet
mengalami kesulitan ekonomi sehingga kemudian mendorong terjadinya perubahan
radikal di negeri tersebut.
Semua bermula ketika
Mikhail Gorbachev terpilih menjadi Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni
Soviet pada tahun 1985. Setelah resmi menjadi Sekjen Partai Komunis Uni Soviet dan
memimpin negeri tersebut, di luar dugaan banyak pihak, Gorbachev mengeluarkan
kebijakan glasnost dan perestroika, suatu kebijakan yang
tidak lazim terjadi di Uni Soviet karena berubah 180 derajat dari pakem
kebijakan Uni Soviet masa-masa sebelumnya. Glasnost sendiri berarti
keterbukaan politik, dan perestroika berarti restrukturisasi ekonomi.
Dua kebijakan ini praktis mengubah Uni Soviet menjadi negara yang tidak lagi
komunis tulen yang anti dengan demokrasi, arus modal, dan investasi menjadi
negara yang terbuka secara politik karena memungkinkan ruang demokrasi tumbuh,
rakyat dapat menyuarakan aspirasi politiknya, dan yang terpenting
diperkenankannya arus kredit dan investasi masuk ke Uni Soviet.
Dalam merespon runtuhnya
Tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur pada 9 November
1989,
Gorbachev tidak memiliki pilihan lain kecuali mendukung reunifikasi Jerman
dengan segala konsekuensinya. Hal ini karena pada waktu itu, kekuatan Uni
Soviet sudah
melemah baik secara ekonomi maupun politik. Jika saja Uni Soviet mengambil opsi
militer dalam merespon bersatunya Jerman, maka konfrontasi dengan Amerika Serikat dan
Jerman besar kemungkinan akan terjadi yang kemudian akan semakin memicu
terjadinya Perang Dingin baru. Gorbachev lalu memilih opsi diplomasi untuk
menyikapi reunifikasi Jerman. Diplomasi pun dibangun oleh pihak Uni Soviet dan
pihak Jerman yang dimulai pada Maret 1990. Hasilnya, Uni Soviet setuju dengan bersatunya Jerman Barat dan
Jerman Timur sehingga berdampak terhadap hilangnya status Jerman Timur yang
selama Perang Dingin menjadi bagian dari sekutu Uni Soviet. Dampaknya, sebanyak
300.000 pasukan
Uni Soviet ditarik mundur dari wilayah Jerman Timur. Penarikan pasukan
Soviet dari Jerman Timur dan dukungan Soviet terhadap reunifikasi Jerman tentu
tidak bersifat cuma-cuma alias harganya sangat mahal. Mengapa demikian?
Jawabannya karena tidak ada yang gratis dalam politik.
Adagium tidak ada makan siang gratis sangat relevan dengan konteks ini. Selain karena memang Uni Soviet di bawah kepemimpinan Mikhail Gorbachev sudah berubah secara ideologi, tidak lagi konservatif dengan mengusung ideologi komunis murni yang serba anti dengan keterbukaan dan ekonomi liberal. Uni Soviet mendukung reunifikasi Jerman karena ada motif ekonomi di mana pada waktu itu Uni Soviet sedang dalam kondisi krisis ekonomi. Fakta sejarah menunjukkan bahwa setelah Gorbachev membuat keputusan mendukung reunifikasi Jerman yang kemudian diikuti dukungan Soviet terhadap keanggotaan Jerman dalam NATO, serta penarikan pasukan Uni Soviet dari daratan Jerman, Uni Soviet lalu mendapatkan bantuan kredit dari Jerman sebesar 20 miliar Deutsche Mark (DM).14 Ada hal menarik terkait uang sebesar 20 miliar DM yang diberikan pemerintah Jerman kepada pemerintah Uni Soviet. Salah satu sumber menyebut bahwa uang tersebut diberikan sebagai insentif kepada Uni Soviet yang menyepakati reunifikasi Jerman dan bersatunya Jerman dalam keanggotaan NATO.15 Secara historis, pemberian bantuan kredit Jerman kepada Uni Soviet tersebut bermula dari percakapan antara Menteri Luar Negeri Uni Soviet Shevardnadze dan Kanselir Jerman Barat Helmut Kohl pada Mei 1990. Ketika itu, Menlu Uni Soviet meminta jaminan pinjaman kredit sebesar 20 miliar DM. Namun, Jerman hanya menyanggupi 5 miliar DM.
Suasana kemudian menjadi
dinamis, Jerman mencoba melobi negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan
Inggris yang ternyata juga tidak mau menerima permintaan Soviet. Puncaknya, Presiden
Gorbachev memberi ultimatum kepada Kanselir Kohl bahwa perjanjian final terkait
Empat Plus Dua (AS, Inggris, Uni Soviet, Prancis) + (Jerman Barat, Jerman
Timur) tidak akan ditandatangani jika sebelum dua belah pihak (Jerman dan Uni Soviet)
menyetujui tentang seberapa banyak Jerman menyanggupi biaya penarikan pasukan
Uni Soviet dari Jerman Timur. Pada akhirnya, pemerintah Jerman Barat kemudian menyerah, mereka
lalu menyanggupi biaya kompensasi bersatunya Jerman ke dalam keanggotaan NATO
sebesar 20 miliar DM yang diminta Uni Soviet. Dana sebesar tersebut
tentu sangat dibutuhkan Soviet untuk membiayai eksistensi Uni Soviet sebagai
sebuah negara yang pada masa itu sedang dilanda krisis ekonomi.
Sampai di sini tampak sangat gamblang sekali kalau komunisme sebagai sebuah ideologi jelas gagal menjamin kelangsungan hidup sebuah negara sehingga negara sebesar Uni Soviet pun tidak dapat mempertahankan kemurnian komunisme yang anti dengan masuknya kapital menjadi penyokong ekonomi kredit dan pendukung ekonomi liberal. Dalam kondisi yang demikian, menjadi sebuah pilihan rasional jika kemudian Uni Soviet mengubah haluan ideologinya menjadi terbuka dan berpihak dengan ekonomi Barat. Perubahan revolusioner ini lalu berdampak sistemik terhadap ambruknya imperium Uni Soviet yang kemudian melahirkan 15 negara baru seperti Armenia, Azerbaijan, Belarus, Estonia, Moldova, Rusia, Ukraina, Lithuania, Latvia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Estonia, Georgia, Tajikistan, Uzbekistan. Inilah fakta yang jarang terungkap terkait dinamika politik dunia menjelang bubarnya Uni Soviet.

0 Response to "Alasan Uni Soviet Mendukung Reunifikasi Jerman"
Post a Comment