Mewujudkan Smart Square | Paradigma Bintang

Mewujudkan Smart Square

Ruang publik sejatinya merupakan tempat berkumpulnya khalayak, di ruang publik berbagai elemen masyarakat saling bertemu dan melangsungkan aktivitas. Tidak jarang, masyarakat menjadikan ruang publik kota sebagai tempat untuk melepas lelah, wisata, hingga ruang belajar out door. Ruang publik kota pada umumnya dikenal dengan istilah Alun-alun. Setiap Kota/Kabupaten yang ada di Indonesia dipastikan memiliki alun-alun sebagai episentrum administrasi sekaligus ikon kota. Merujuk pada data yang dirilis Kemendagri, Kabupaten/Kota se Indonesia berjumlah 514, ini berarti; secara ideal, mestinya ada 514 alun-alun kota/kabupaten yang representatif, kondusif dan nyaman untuk dijadikan sebagai ruang bersama.

Dalam realitasnya, ada alun-alun kota yang mencerminkan diri sebagai ruang publik yang representatif namun ada pula yang mencerminkan sebaliknya. Beberapa waktu terakhir, saya kebetulan berkesempatan mengunjungi alun-alun Kabupaten Garut, ada kesan berbeda yang saya rasakan ketika saya ada di alun-alun kota dodol ini. Poin saya, ruang publik di alun-alun Garut kurang tertata dan kurang mencerminkan diri sebagai kota yang siap memanjakan publik dengan layanan representatif dan mencerdaskan. Sejujurnya, saya bingung dengan konsep tata kelola ruang publik di alun-alun Kabupaten Garut, kebingungan saya antara lain: alun-alun Garut tidak memiliki ruang terbuka hijau dengan hamparan rumput yang enak dilihat. Selain itu, alun-alun tidak memiliki tempat duduk yang memungkinkan pengunjung bisa nyaman bersantai ria, berdiskusi, berselancar di dunia maya dan menikmati suasana ruang publik yang kondusif. Masih adanya Pedagang Kaki Lima (PKL) liar yang kerap berjualan di area alun-alun, kurang terawatnya beberapa sudut alun-alun sehingga terkesan kurang bersih serta tidak adanya layanan HotSpot atau WiFi gratis di sekitar alun-alun adalah faktor yang turut menjadikan alun-alun Garut kurang representatif .

PRIVATE DOCUMENT/ZAHIR ALFATIH
Belajar dari alun-alun Garut, seyogyanya setiap kota/kabupaten di seluruh Indonesia memiliki visi untuk menjadikan alun-alun kotanya benar-benar representatif, nyaman dan kondusif. Sehubungan dengan ini, hemat saya adalah sudah saatnya para pemangku wewenang kota/kabupaten mengadopsi konsep Smart Square sebagai langkah solutif menjadikan alun-alun kota/kabupaten yang mencerdaskan, layak dikunjungi dan bisa menjadi pencerdas bangsa.

Implementasi dari konsep Smart Square ini adalah di setiap alun-alun kota/kabupaten wajib dibangun ruang terbuka hijau yang memiliki taman publik sehingga membuat setiap pengunjung betah berada di alun-alun, nyaman berwisata ke alun-alun, serta jangan ragu memasang  layanan fasilitas HotSpot dan WiFi gratis untuk menunjang terwujudnya masyarakat yang melek teknologi, produktif dan berdaya saing. Selain itu, di area alun-alun perlu juga dilengkapi dengan adanya stand layanan air minum gratis yang steril dan berkualitas. Ide ini dimaksudkan untuk menjaga kesehatan publik pengunjung mengingat pentingnya cairan bagi kesehatan manusia. Kekurangan minum bisa menyebabkan terjadinya dehidrasi. Pemasangan kamera Closed Circuit Television  (CCTV) alias kamera pengintai juga urgen dilakukan, hal ini sebagai upaya antisipatif guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diingankan. Jika konsep smart square ini direalisasikan, saya memprediksi ruang-ruang publik kota akan turut berkontribusi bagi terwujudnya Indonesia yang maju, berkeadaban dan berdaya saing.

0 Response to "Mewujudkan Smart Square"

Post a comment