Sumenep dalam Keunikan Sejarah, Sosial, dan Budaya | Paradigma Bintang

Sumenep dalam Keunikan Sejarah, Sosial, dan Budaya

Pulau Madura dengan segala daya tariknya memiliki empat kabupaten yang terhampar dari ujung barat ke ujung timur dan begitupula sebaliknya. Dari ujung barat ada Kabupaten Bangkalan, disusul kemudian Kabupaten Sampang, diikuti Kabupaten Pamekasan, dan terakhir di ujung timur adalah Kabupaten Sumenep. Kabupaten dengan kepemilikan 126 pulau di mana ada 48 pulau berpenghuni dan 78 pulau tidak berpenghuni ini (Disdukcapil Kabupaten Sumenep, 2025) secara faktual merupakan satu-satunya di Madura dan Jawa Timur yang memiliki rekam jejak sejarah keraton dan memiliki irisan sejarah dengan Kerajaan Singasari serta Kerajaan Majapahit. Peninggalan bangunan dan warisan benda-benda masa pemerintahan Keraton Sumenep hingga kini masih abadi serta menjadi bahan edukasi dengan dibangunnya Museum Keraton Sumenep. Ini sekilas dari aspek sejarah. Dilihat dari aspek sosial budaya, Sumenep memiliki segudang keunikan dan kearifan lokal yang dapat dipastikan hanya ada di kabupaten yang mencitrakan diri sebagai The Soul of Madura alias jiwanya Madura (Ciputra, 2022). Tulisan ini akan memotret keunikan-keunikan sejarah, sosial, dan budaya masyarakat Sumenep dengan perspektif kekinian.

Mushaf Al-Quran Tulisan Tangan Raja Sumenep Sultan Abdurrahman

Salah satu benda koleksi yang dimiliki Museum Keraton Sumenep adalah mushaf Al-Quran tulisan tangan dari Raja ke-32 Sumenep bernama Sultan Abdurrahman. Saya pertama kali mengetahui informasi ini saat berkunjung ke Museum Keraton Sumenep pada 9 November 2023. Berdasarkan sumber kredibel, mushaf Al-Quran tersebut ditulis Sultan Abdurrahman dengan cara dicicil, yaitu, beliau menuliskannya setiap malam selepas menunaikan salat Tahajud (Warid, 2026). Salah satu sumber menuliskan bahwa untuk menuliskan mushaf legendaris tersebut, Sultan Abdurrahman meminta anak-anak beliau secara bergiliran memegang obor penerang yang menerangi proses penulisan mushaf (Farhan & Esha, 2015). Maharkarya mushaf Al-Quran tulisan tangan seorang Sultan Abdurrahman yang memimpin Sumenep dari 1811—1854 hingga kini masih dapat dinikmati pengunjung museum. Letaknya ada di Gedung III Museum Keraton Sumenep (Rizky, 2026). Salah satu keunikan lain dari mushaf ini adalah kertasnya masih utuh meski sudah ratusan tahun, tidak tampak ada penuaan kertas dan pengelupasan. Hal ini menandakan bahwa ada kekuatan tidak biasa yang turut menjaga eksistensi dan kesinambungan mushaf warisan sejarah dari sang Raja ke-32 Sumenep.

Kisah tentang mushaf Al-Quran karya Sultan Abddurrahman memiliki pesan hikmah yang cukup mendalam dan patut untuk menjadi bahan refleksi kita bersama, khususnya generasi muda dan para pemimpin masa kini. Bahwa dalam mengarungi bahtera kehidupan yang penuh gelombang dan ketidakpastian, kompasnya adalah agama. Landasannya adalah kitab suci karena ia merupakan fondasi dan petunjuk bagi umat manusia dalam menjalankan apa pun peran yang akan manusia emban. Sebagai contoh, jika seorang dipercaya memangku amanah sebagai pemimpin, maka seyogianya individu bersangkutan menjadikan kitab suci Al-Quran sebagai pijakan dalam memimpin.

Sultan Abdurrahman memberikan teladan yang sangat jelas bagaimana seharusnya seorang pemimpin muslim memainkan perannya sesuai dengan standar ajaran Islam. Beliau menjadikan malam untuk beribadah mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta, Allah S.W.T., bersujud meminta petunjuk dan kekuatan dalam memimpin rakyat yang menjadi tanggung jawab beliau.

Sumenep dalam Keunikan Sejarah, Sosial, dan Budaya
Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Keris sebagai Identitas Budaya Sumenep

Keris merupakan ikon dan identitas budaya masyarakat Kabupaten Sumenep. Salah satu langkah serius yang dilakukan otoritas Sumenep untuk melakukan pemajuan kebudayaan keris adalah dengan mencitrakan Kabupaten Sumenep sebagai Kota Keris. Hal ini untuk menguatkan citra bahwa Sumenep memang gudangnya para perajin keris. Jika kita berjunjung ke Sumenep, ikon kota keris benar-benar tecermin dalam banyak bagian penting di beberapa infrastruktur penting di titik-titik strategis di Sumenep. Kita akan menjumpai lampu-lampu hias bermotif keris, tulisan Selamat Datang di Kota Keris! hingga ukiran-ukiran keris di berbagai sudut Kota Sumenep.

Dalam catatan saya, Pemkab Sumenep begitu serius dalam kerja-kerja konkret merawat, mempromosikan, dan merealisasikan segala itikad baik pemajuan kebudayaan keris. Berbagai upaya dan langkah nyata telah dilakukan Pemkab Sumenep dalam upaya memajukan kebudayaan keris adalah melalui pendekatan kegiatan rutin yang ditetapkan melalui kalender agenda tahunan terjadwal serta dalam bentuk pembangunan fisik infrastruktur. Salah satu yang paling monumental adalah pembangunan Monumen Tugu Keris Arya Wiraraja di Desa Pragaan Kecamatan Pragaan Laok Kabupaten Sumenep yang telah diresmikan pada 30 Januari 2025 oleh Menteri Kebudayaan (Menbud) Republik Indonesia, Fadli Zon (Busri, 2025). Pada momentum tersebut, Menbud Fadli menyatakan bahwa Kabupaten Sumenep layak disebut sebagai ibu kota keris dunia. Menurutnya, dengan memiliki 600 empu aktif—di mana per bulan mereka dapat memproduksi lebih dari 2000 keris—menjadikan Sumenep sebagai satu-satunya kabupaten yang dapat melakukan hal tersebut di dunia ini sehingga sebutan Sumenep sebagai ibu kota keris dunia layak disandang Kabupaten Sumenep (Aziz, 2025).

Apresiasi yang disampaikan oleh Menbud Fadli tersebut pada dasarnya menguatkan apresiasi serta pengakuan yang sebelumnya telah diberikan oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Pada tahun 2014, UNESCO sebagai organisasi PBB bidang pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan telah mengakui Kabupaten Sumenep sebagai Kota Keris karena kabupaten ini memiliki empu perajin keris terbanyak di dunia (Prasetya, 2025). Penguatan identitas diri sebagai Kota Keris selain melalui pembangunan infrastruktur fisik seperti Monumen Tugu Keris Arya Wiraraja, seorang Adipati pertama Kerajaan Sumenep yang memiliki peran krusial dalam masa akhir Kerajaan Singasari dan pendirian Kerajaan Majapahit (Pemkab Sumenep, 20017), juga melalui hal-hal lain yang bersifat konkret dan relevan dalam mendukung pembangunan ekosistem kebudayaan keris di Sumenep.

Sebagai contoh, otoritas Sumenep menyusun kalender kegiatan tahunan yang di dalamnya memasukkan agenda khusus untuk pelestarian keris seperti menyelenggarakan acara penjamasan atau penyucian pusaka keris sebagai kegiatan rutin tahunan yang mesti dilaksanakan oleh Pemkab Sumenep pada bulan Syura atau Muharam dan dapat diikuti oleh masyarakat umum (Mukhlisah, 2024). Lebih lanjut, pemerintah setempat juga rutin menggelar acara pameran keris yang mengundang serta melibatkan pelajar, para perajin, budayawan, dan masyarakat pecinta keris (Rahman, 2023).

Pemerintah Kabupaten Sumenep juga mendukung keberlangsungan desa wisata keris yang berada di Desa Aeng Tong Tong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep. Pada tahun 2022 Desa Aeng Tong Tong meraih prestasi nasional sebagai Juara Satu Desa Wisata Kategori Daya Tarik Pengunjung dalam agenda tahunan Anugerah Desa Wisata Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata (Nashrullah, 2022). Pencapaian yang diraih Desa Aeng Tong Tong ini tidak terjadi secara instan. Ia adalah buah dari proses panjang dan kerja keras yang tidak sebentar. Di desa ini hidup banyak empu perajin keris yang sangat dedikatif. Mereka mempersembahkan hidupnya untuk melestarikan budaya keris dengan senantiasa memproduksi keris setiap harinya.

Pada 27 Mei 2025, saya berkesempatan berkunjung ke Desa Wisata Keris Aeng Tong-Tong. Saya menyaksikan secara langsung betapa uletnya para perajin keris di desa tersebut dalam membuat keris. Mereka dengan suka cita dan telaten menempa besi yang sangat keras itu hingga terbentuk keris indah bernilai seni budaya. Dalam kunjungan wisata budaya tersebut, saya juga sempat berjumpa dan berinteraksi dengan salah satu empu keris perempuan yang dimiliki Sumenep dan kebetulan warga asli Desa Aeng Tong Tong. Namanya Ika Arista. Saat itu, saya bersama Empu Ika banyak berbincang tentang prestasi Desa Wisata Keris Aeng Tong Tong di tahun 2022 serta juga membahas tentang bagaimana keseharian perajin keris di desa tersebut. Dalam pengamatan saya, mereka para empu keris yang ada di desa Aeng Tong Tong selain secara kuantitas merupakan yang terbanyak di dunia juga memberikan keteladanan tentang keuletan, tanggung jawab, dan konsistensi dalam menjalani profesi sebagai pencipta keris bernilai seni budaya tinggi.

Dalam interaksi saya dengan Empu Ika saat berwisata ke desa berprestasi Aeng Tong Tong, Saya juga mengobrol tentang eksistensi keris Aeng Tong Tong di kancah G20 tahun 2022. Hal ini karena selain pencapaian sebagai juara nasional desa wisata kategori daya tarik pengunjung, produk keris dari Desa Wisata Aeng Tong Tong juga pernah menjadi souvenir atau cinderamata bagi para delegasi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 atau kelompok 19 negara maju dan berkembang plus Uni Eropa dengan tingkat pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia yang diselenggarakan di Bali pada November 2022 (Hakim, 2022). Fakta ini menunjukkan bahwa produk lokal Sumenep sukses mengglobal dan diterima masyarakat internasional. Keunikan dan kearifan lokal Desa Aeng Tong Tong berhasil membuktikan hal kusial, bahwa niat baik melestarikan kebudayaan akan menembus ruang, waktu, keterbatasan, dan ketidakmungkinan. Narasi ini memiliki pesan bahwa warisan budaya leluhur yang positif harus senantiasa kita pelihara tanpa memedulikan apapun status dan gender kita. Laki dan perempuan setara dalam hak dan kewajiban termasuk dalam hal ini kesamaan peran dan kesempatan dalam pelestarian dan pemajuan kebudayaan lokal yang berkelanjutan.

Kampung Pasir

Keunikan sosial budaya yang satu ini dapat dikatakan sangat fenomenal. Begitu banyak media lokal, nasional dan terbaru media internasional sekelas Associated Press (2025) yang telah meliput keunikan Kampung pasir yang ada di Desa Legung Barat, Desa Legung Timur Timur, Desan Dapenda, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep. Nilai unik yang dimiliki kampung ini adalah kearifan lokal masyarakat setempat yang melanjutkan tradisi atau budaya kasur pasir atau budaya untuk menjadikan pasir sebagai kasur atau alas tidur dan melangsungkan aktivitas keseharian di atasnya (Alangkara & Tarigan, 2025). Di tiga desa sebagaimana disebutkan sebelumnya, masyarakat secara nyata memiliki rumah tapak normal layaknya rumah kebanyakan. Ada ruang tamu, kamar, dapur, dan teras. Mereka juga memiliki kasur kapuk atau kasur busa sebagaimana umumnya meski dalam praktik keseharian kasur tersebut hanya sebatas pelengkap karena warga di sana lebih nyaman tidur beralaskan pasir. Mereka memutuskan berperilaku demikian karena memegang satu filosofi yang sarat makna, bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah (Rachmawati, 2025).

Keyakinan inilah yang turut menginspirasi warga Kampung Pasir untuk senantiasa meneruskan tradisi nenek moyang mereka terdahulu. Budaya kasur pasir mengajarkan warga Kampung Pasir untuk selalu mengingat dari mana manusia berasal sehingga menyadarkan mereka bahwa ajal atau kematian itu pada saatnya akan tiba. Setiap waktu melalui aktivitas keseharian seperti tidur, istirahat, berbaring, di atas pasir, tubuh mereka menempel langsung dengan pasir yang tidak lain merupakan metafora dari tanah. Ini menandakan bahwa ajal yang dilambangkan dengan tanah itu memang nyata ada, ia dekat, berisisan, dan pasti akan menjemput manusia. Inilah filosofi tidur beralaskan pasir ala masyarakat Kampung Pasir.

Lebih lanjut, yang membedakan dari rumah milik warga Kampung Pasir dari rumah lain adalah di rumah unik mereka ada celah-celah kosong di bagian lantai yang dibiarkan berlantai pasir. Hal ini jamak ditemui seperti di kamar, dapur, halaman rumah hingga jalan desa. Di atas pasir-pasir itu, para warga biasanya bercengkrama, beristirahat, melakukan relaksasi, bermain, tidur, berkumpul, dan bahkan ada yang sampai melahirkan anak di atas empuknya kasur pasir yang mereka yakini membawa berkah (Kumparan, 2018).

Sebagai informasi, pasir-pasir yang menjadi bahan kasur warga di tiga desa Kampung Pasir semuanya tampak halus, bersih, dan lembut karena setelah mereka mendapatkan pasir tersebut dari Pantai Lombang—sekitar tiga kilometer dari rumah mereka dan dapat ditempuh dengan durasi bekendara selama 10 menitan—pasir-pasir tersebut lalu dibersihkan dengan air tawar, dijemur, diayak, dan difilter sehingga tersaringlah pasir-pasir pilihan terbaik yang terlihat memukau (GoSumenep, 2025). Pasir-pasir tersebut dalam praktiknya multifungsi, saat cuaca sedang panas, pasir yang menjadi alas dan kasur di rumah-rumah tapak masyarakat Kampung Pasir hadir memberikan kesejukan. Adapun saat cuaca sedang dingin, pasir-pasir tersebut hadir memberikan kehangatan. Kebudayaan pasir kasur ini sudah berlangsung turun temurun dan bertahan hingga saat ini.

Eksistensi kebudayaan kasur pasir diyakini para warga memiliki berkah tersendiri seperti dapat menyembuhkan dan menangkal penyakit, semisal rematik, nyeri punggung, pegal linu, dan gatal (Hendra, 2020). Secara sains, pilihan warga Kampung Pasir yang senantiasa mempertahankan kebudayaan kasur pasir tanpa mereka sadari ternyata memiliki landasan keilmuan yang sangat menakjubkan. Berdasarkan data saintifik, pasir rupanya mengandung alumina oksida, kalsium oksida, oksida besi, magnesium oksida, dan timbal sehingga dapat membuat peredaran darah menjadi lancar, metabolisme tubuh selalu terbarui, dan imunitas tubuh meningkat (Nurrahim, n.d.). Melihat segala keunikan, kelebihan, dan khasiat yang ditimbulkan tidak berlebihan kiranya jika masyarakat Kampung Pasir terus mempertahankan budaya kasur pasir dan merawatnya hingga kini. Mereka memegang teguh semboyan, “Ranjang e pajheng, beddih e gheller” yang berarti “ranjang dipajang, pasir digelar” (Azhar, 2016). Inilah motto hidup yang mengiringi kehidupan keseharian warga Kampung Pasir di Desa Legung Barat, Legung Timur, Dapenda, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Madura.

Referensi

Alangkara, D., & Tarigan, E. (9 Oktober 2025). PHOTO ESSAY: Indonesia's village keeps tradition of life on sand. AP News. https://apnews.com/photo-essay/indonesia-madura-sand-villages-cf919c1187729dfed378f80500a5f728

Alim, M.Z. 9 November 2023. Foto Mushaf Al-Quran Tulisan Tangan Sultan Abdurrahman

Alim, M.Z. 27 Mei 2025. Foto Suasana Desa Wisata Keris Aeng Tong-Tong.

Aziz, Abd. (30 Januari 2025). Menteri Kebudayaan RI Meresmikan Tugu Keris di Sumenep. Antara News. https://www.antaranews.com/berita/4615946/menteri-kebudayaan-ri-meresmikan-tugu-keris-di-sumenep

Azhar, F. (2016). Studi penggunaan pasir dalam kehidupan masyarakat pesisir Desa Legung Timur, Kabupaten Sumenep, Madura [Skripsi sarjana, Universitas Brawijaya]. Repository Universitas Brawijaya. https://repository.ub.ac.id/id/eprint/102086/1/SKRIPSI_FADHIK.pdf

Busri, A. (31 Januari 2025). Pecahkan rekor MURI, Tugu Keris Arya Wiraraja Sumenep terpanjang di dunia. Madura In Depth. https://maduraindepth.com/pecahkan-rekor-muri-tugu-keris-arya-wiraraja-sumenep-terpanjang-di-dunia

Ciputra, W. (23 Februari 2022). Sejarah dan asal-usul Sumenep, kabupaten berjuluk "The Soul of Madura". Kompas.com. https://surabaya.kompas.com/read/2022/02/23/163700878/sejarah-dan-asal-usul-sumenep-kabupaten-berjuluk-the-soul-of-madura-?page=all

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Sumenep. (3 Februari 2025). Letak geografis. https://disdukcapil.sumenepkab.go.id/profil/letak-geografis

Farhan & Esha. (1 Juli 2015). Kisah di balik penulisan Al-Quran raja Sumenep di museum keraton. Pemerintah Kabupaten Sumenep. https://www.sumenepkab.go.id/berita/baca/kisah-di-balik-penulisan-al-quran-raja-sumenep-di-museum-keraton

GO Sumenep. (I Januari 2024). Wisata Kampung Pasir Sumenep suguhkan keunikan dan kearifan lokal. https://gosumenep.com/wisata-kampung-pasir-sumenep-suguhkan-keunikan-dan-kearifan-lokal/

Hakim, Lukman. (17 November 2022). Jawa Timur bangga, keris Aeng Tongtong dari Sumenep jadi souvenir KTT G20. SINDOnews.com. https://daerah.sindonews.com/read/943595/704/jawa-timur-bangga-keris-aeng-tongtong-dari-sumenep-jadi-souvenir-ktt-g20-1668640289

Hendra, M. (26 Januari 2020). Pasir di Sumenep menjadi obat penangkal penyakit. Maduraindepth.com. https://maduraindepth.com/pasir-di-sumenep-menjadi-obat-penangkal-penyakit

kumparanTRAVEL. ( 4 December 2020). Tidur beralaskan pasir, tradisi unik turun-temurun warga Sumenep, Madura. Kumparan. https://kumparan.com/kumparantravel/tidur-beralaskan-pasir-tradisi-unik-turun-temurun-warga-sumenep-madura-1uhvz7gIYZF/full

Mukhlishah Sy, W. (15 Juli 2024). Jamasan keris resmi digelar, ritual pusaka sakral penuh makna Sumenep. Suara Indonesia. https://suaraindonesia.co.id/news/news/669514b03ea26/jamasan-keris-resmi-digelar-ritual-pusaka-sakral-penuh-makna-sumenep

Nashrullah, H. (4 November 2022). Desa Wisata Aeng Tong Tong raih penghargaan dari Kemenparekraf. ANTARA News Jawa Timur. https://jatim.antaranews.com/berita/652137/desa-wisata-aeng-tong-tong-raih-penghargaan-dari-kemenparekraf

Nurrahim, T. (n.d.). Ada kampung pasir di Sumenep Madura? IndonesiaBaik.id. https://indonesiabaik.id/videografis/ada-kampung-pasir-di-sumenep-madura

Prasetya, A.W. (30 Juni 2025). Fadli Zon Resmikan Tugu Keris di Sumenep, Anggap Sumenep Layak Jadi Ibu Kota Keris Dunia. Kompas.com. https://travel.kompas.com/read/2025/02/01/160400627/fadli-zon-resmikan-tugu-keris-di-sumenep-anggap-sumenep-layak-jadi-ibu-kota

Pemerintah Kabupaten Sumenep. (17 April 2017). Sejarah Arya Wiraraja. https://sumenepkab.go.id/profil/arya-wiraraja

Rizky, Miranti. (3 Agustus 2026). Mushaf Al-Quran tulisan Sultan Abdurrahman jadi koleksi berharga Keraton Sumenep. RRI.co.id. https://rri.co.id/malang/budaya/2621799/mushaf-al-quran-tulisan-sultan-abdurrahman-jadi-koleksi-berharga-keraton-sumenep

Rachmawati. (16 Oktober 2025,). Unik, warga Desa Legung Sumenep tidur di atas pasir, katanya bikin sehat. Kompas.com. https://www.kompas.com/jawa-timur/read/2025/10/16/060000688/unik-warga-desa-legung-sumenep-tidur-di-atas-pasir-katanya-bikin?page=all

Rahman, A. (2023, September 11). Sumenep gelar pameran keris sebagai sarana edukasi generasi muda. detikJatim. https://www.detik.com/jatim/budaya/d-6894366/sumenep-gelar-pameran-keris-sebagai-sarana-edukasi-generasi-muda

Taufiqurrahman, 16 Oktober. Foto Suasana Warga Desa Legung Sumenep Tidur di Atas Pasir. Kompas.com, https://www.kompas.com/jawa-timur/read/2025/10/16/060000688/unik-warga-desa-legung-sumenep-tidur-di-atas-pasir-katanya-bikin?page=all  

Warid, Faisal. (27 Februari 2026). Jejak mushaf Al-Quran tulisan Sultan Abdurrahman di musium Sumenep. RRI.co.id. https://rri.co.id/sumenep/features/2220597/jejak-mushaf-al-quran-tulisan-sultan-abdurrahman-di-musium-sumenep

Wawancara Informal:

Ika Arista, 35, Empu Keris, Desa Aeng Tong-Tong Saronggi, Sumenep

0 Response to "Sumenep dalam Keunikan Sejarah, Sosial, dan Budaya "

Post a Comment