Perang panas Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran yang dimulai
dengan serangan udara gabungan AS-Israel ke wilayah Iran semenjak 28 Februari
2026 dan berkecamuk hingga kini memiliki dampak yang dahsyat. Salah satunya
adalah keluarnya siasat perang Iran yang tidak biasa. Di Tengah gempuran
gabungan AS-Israel yang menarget titik-titik vital Iran melalui pemboman dan
serangan udara masif, Iran yang tampak survive, bekerja keras dalam menahan
semua serangan udara AS-Israel yang menggunakan persenjataan canggih, pada
akhirnya negeri Persia tersebut mengeluarkan strategi perang pamungkasnya.
Selain membalas serangan gabungan AS-Israel dengan
meluncurkan rudal balistik dan drone ke arah Israel, pangkalan-pangkalan
militer AS yang ada di negara-negara Teluk. Iran juga menerapkan perang atrisi,
suatu model dan pola pertempuran militer yang ditujukan untuk membuat lawan
melemah secara perlahan dengan cara menguras sumber daya, logistik, personel,
dibandingkan hanya berorientasi pada kemenangan cepat.
![]() |
| Sumber Gambar: BBC |
Pola perang atrisi seperti ini akan membuat perang berdurasi
panjang. Dampaknya, membuat lawan kehabisan kapital perang dan daya juang. Hal
ini dilakukan Iran dengan cara meluncurkan stok-stok rudal dan drone lama berbiaya
murah seperti drone Shahed yang berada di kisaran 20.000 USD-50.000 USD atau
setara Rp320 juta hingga Rp850 juta, rudal Shahab 1 dan Shahab 2 dengan harga
di kisaran 1 juta hingga 2 juta USD. Manuver militer Iran seperti ini ternyata harus
dicegat AS-Israel dengan alat pencegat (interceptor) canggih berbiaya
mahal seperti Iron Dome, Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) yang
ongkos pembiayaannya 1 miliar USD atau 17 triliun rupiah per baterainya.
Lebih lanjut, Iran hanya sesekali meluncurkan rudal
terbarunya seperti Sejjil dan Fattah. Selain itu, Iran memainkan taktik perang atrisi
lain dengan menutup Selat Hormuz yang kemudian berdampak terhadap melonjaknya
harga minyak dunia hingga di angka 100 USD per barel sehingga membuat
perekonomian dunia terancam resesi akibat inflasi harga pangan dan komoditas
lain imbas melambungnya harga minyak dunia. Iran juga menyerang kapal-kapal
tanker yang melewati Selat Hormuz tanpa izin Iran.
Sebagai respons, AS meminta negara-negara sekutunya membantu
membuka Selat Hormuz yang ditutup Iran yang ditanggapi Iran dengan keteguhan
sikap untuk tetap menutup Selat Hormuz di mana 20 persen jalur distribusi
minyak dunia melewati selat ini. Tragisnya, negara sekutu AS di NATO seperti
Inggris dan Jerman menolak ajakan Trump untuk ikut terlibat perang melawan Iran
dengan dalih bukan perangnya NATO.
Strategi perang atrisi yang dilakukan Iran ini efektif dalam
membuat AS, Israel, dan negara-negara lain kalang kabut. AS secara malu-malu mengisyaratkan
ingin mengakhiri perang yang kemudian ditanggapi Iran dengan menyatakan bahwa
Iran hanya akan berdamai jika AS-Israel memenuhi tiga syarat yang berisikan:
Satu, pengakuan atas hak-hak sah Iran. Dua, pembayaran ganti rugi perang. Tiga,
jaminan internasional yang mengikat untuk tidak melakukan serangan di masa
mendatang.
AS-Israel memang masih mengggempur Iran dengan menewaskan
banyak pemimpin penting Iran, warga sipil, dan menghancur objek-objek strategis
Iran. Namun, tujuan mereka untuk mengganti rezim kepemimpinan Iran dengan sosok
yang dikehendaki AS tidak pernah terwujud karena rakyat Iran tidak dapat
diprovokasi dan diintervensi oleh siapa pun. Rakyat memilih tetap setia dan
mendukung rezim kepemimpinan Iran saat ini pasca kematian Ayatollah Ali
Khamenei akibat dibunuh AS-Israel. Bahkan, Iran di bawah kepemimpinan rezim
baru Mojtaba Khamenei semakin bertekad untuk membalas tuntas segala kejahatan
dan serangan militer AS-Israel. Perang atrisi Iran akan memaksa AS-Israel
berperang lama dengan menguras banyak sumber daya dan Iran sudah menyatakan
siap perang panjang. Bagaimana akhir kisah dari perang AS-Israel melawan Iran
tahun 2026? Waktu yang akan menjawab.

0 Response to "Perang Atrisi Iran Melawan AS-Israel 2026"
Post a Comment