Semenjak diluncurkan dalam acara
World Economic Forum di Davos, Swiss, 22 Januari 2026, Board of Peace (BoP)
atau Dewan Perdamaian inisiatif Presiden AS Donald Trump, sampai kini masih menuai
kontroversi dan polemik. Banyak kalangan di Tanah Air yang mengkritisi lembaga
tersebut. Tidak sedikit mereka yang skeptis dan bahkan menilai dewan perdamaian
ini sebagai proyek bisnis Donald Trump. Belakangan setelah muncul banyak kritik
publik terkait keanggotaan Indonesia di BoP, Presiden Prabowo mengumpulkan
tokoh-tokoh publik, baik yang mewakili organisasi kemasyarakatan Islam, mantan
menteri dan wamen luar negeri.
Mereka diundang khusus bertemu
presiden untuk diajak dialog, mendiskusikan pilihan kebijakan Indonesia yang
bergabung di BoP. Hasil pertemuan tersebut cukup mengejutkan. Tokoh-tokoh yang
sebelumnya kritis terkait keanggotaan Indonesia di BoP berubah menjadi
mendukung dan memaklumi kebijakan pemerintah Indonesia. Sementara mereka yang
tidak diundang, tetap pada kemurniaan analisis dan kritik tajam bahwa BoP
adalah lembaga yang dibentuk untuk menandingi keberadaan Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) yang secara sah berdasarkan Piagam PBB telah memiliki Dewan
Keamanan PBB.
![]() |
| Sumber Gambar: AFP |
BoP yang sejatinya didirikan berdasarkan
Resolusi DK PBB Nomor 2803 untuk mendukung pembentukan administrrasi Gaza pasca
konflik dijadikan kendaraan untuk mendukung pendudukan Israel di bumi
Palestina. Mereka mengkritisi satu hal esensial: Bagaimana bisa Bop dibentuk
dengan tujuan untuk menciptakan
perdamaian di Gaza, merekonstruksi Gaza pasca dihancurkan oleh Israel, pihak
yang dilibatkan dan diajak berpartisipasi hanya penjahat kemanusiaan dan penjajah
biadab seperti israel, sementara pihak Palestina diabaikan alias benar-benar
tidak dilibatkan sama sekali? Bagaimana mungkin Trump ingin mendamaikan dua
pihak yang berkonflik panas sekian dekade lamanya, sementara yang diajak
berdamai hanya satu pihak yang nyata-nyata menjadi biang kerok dari adanya
konflik. Yang benar saja. Ada agenda setting dan trade off apa di balik
ini ini semua?
Terlepas dari adanya alibi dan
klarifikasi yang telah disampaikan oleh para tokoh pasca pertemuan dengan
Presiden Prabowo, bahwa keanggotaan Indonesia di BoP masih cair dan tidak
menutup kemungkinan Indonesia akan keluar jika tidak sesuai dengan tujuan dan
amanat konstitusi yang mengharuskan penghapusan penjajahan di atas muka bumi
dan terwujudnya kemerdekaan Palestina menjadi negara berdaulat. Saya memiliki
perspektif tersendiri dalam menyikapi polemik kebijakan Indonesia bergabung
dengan BoP.
Hemat saya, Indonesia terlalu gegabah
dan terjebak dalam arus permainan politik Donald Trump yang selama periode
kedua pemerintahannya ini berambisi mengendalikan panggung politik dunia
melalui ancaman tarif dan operasi militer. Sulit untuk menyangkal bahwa
Indonesia masih berharap Amerika Serikat dapat menurunkan tarif impor barang
Indonesia sebesar 19 persen yang telah diputuskan Trump beberapa waktu lalu.
Indonesia masuk dalam perangkap Trump. Jika menolak bergabung dengan BoP
seperti Inggris, Prancis, dan negara-negara Barat lain sekutu AS, Indonesia
merasa kepentingan dan hubungannya dengan AS akan tidak baik-baik saja. Dari
sini, saya memandang Trump dengan BoPnya sukses besar memengaruhi Indonesia.
Daya nalar dan kritisisme manusia
waras kemudian mengemuka, bahwa lembaga tersebut mewajibkan adanya pembayaran
keanggotaan 1 miliar USD yang tidak ubahnya seperti membership fee
berkedok pembangunan ulang Gaza, legalitas status BoP yang tidak jelas, apakah
di bawah PBB atau independen, siapa yang menjadi penanggungjawab tertinggi,
siapa yang menjadi PIC, bagaimana keberlanjutan BoP, dan hal lain terkait tata kelola
organisasi.
Masuk akal jika ada analisis
bahwa BoP tak ubahnya kelompok swasta beranggotakan negara dengan kedok
perdamaian. Dengan Trump menunjuk dirinya menjadi chairman langsung, menunjuk
menantunya seperti Jared Kushner menjadi sosok penting dalam rekonstruksi Gaza,
sementara masa jabatan Trump sebagai Presiden ada batasnya, apakah ia akan
selamanya menjadi chairman BoP? Siapa nantinya yang akan menjadi chairman BoP jika
Trump sudah tidak menjabat sebagai Presiden AS? Atau BoP sengaja dibuat Trump
sebagai ancang-ancang bisnis jangka panjang Trump dengan menjadikan kehancuran
Gaza sebagai pintu masuk? Pertanyan-pertanyaan kritis seperti ini penting
dimunculkan.
Salah satu jawaban dari
pertanyaan kritis tersebut adalah BoP tidak secara spesifik menyebutkan
mekanisme suksesi kepengurusannya. Apakah setiap presiden AS otomatis menjadi
chairman dari BoP? Atau bagaimana? Tidak secara eksplisit disebutkan. Ini aneh.
Tidak berlebihan jika ada pertanyaan, jika Trump sudah pensiun dari dari
jabatan Presiden AS, apakah ia akan tetap menjadi chairman BoP? Hal-hal semacam
ini harusnya ditelaah secara mendalam sebelum Indonesia memutuskan bergabung
dengan BoP? Maka sangat beruntung, sebelum terlalu jauh melangkah, muncul
pikiran-pikiran kritis dari masyarakat sipil Indonesia ihwal perlunya
pemerintah meninjau ulang keputusan bergabung bersama BoP. Hasilnya, seperti
yang disampaikan Menlu Sugiono bahwa jika dalam praktinya, BoP jauh dari
harapan, kemerdekaan Palestina tidak kunjung terwujud, pemerintah membuka
kemungkinan menarik diri dari BoP.
Sebagai penguat saja, pasca gencatan
senjata 10 Oktober 2025 dan pembentukan BoP, Israel terus menyerang warga Gaza
yang menyebabkan tewasnya 488 warga Gaza (Aljazeera, 30/1/2026). Melihat
fakta ini, masihkah kita percaya dengan BoP bentukan Trump yang jelas-jelas
selalu melindungi kekejaman Israel? Masihkah kita percaya Israel sebagai
anggota BoP akan rela melihat negara Palestina Merdeka dan berdaulat? Bukankah
Benjamin Netanyahu sudah menyatakan bahwa meski menjadi anggota BoP, Israel
tidak akan mengakui kemerdekaan Palestina?
Mengingat Indonesia sudah terlanjur bergabung dalam BoP, saya mencoba bijak sekaligus tetap kritis. Saya berkesimpulan, rasanya kalau keputusan Indonesia menjadi anggota BoP hanya untuk menghargai inisiatif Trump dengan harapan mendapat penurunan tarif dagang, sambil lalu memantau secara lebih dekat komitmen Trump mewujudkan perdamaian dan kemerdekaan di bumi Palestina, apakah hanya sebatas omon-omon, atau memang benar BoP dijadikan alat untuk memuluskan kepentingan bisnis Trump yang pernah membayangkan ingin menjadikan Gaza Riviera Timur Tengah, dan sebagainya, di titik ini masih dapat diterima. Namun demikian, terkait komitmen pembayaran keanggotaan sebesar 1 miliar USD, mumpung belum membayar, maka Indonesia tidak perlu buru-buru membayar. Tidak ada kebutuhan mendesak menjadi anggota permanen BoP. Jika dalam perkembangannya, dugaan-dugaan di atas terbukti, Dewan Perdamain alias BoP hanya menjadi instrumen proyek bisnis Trump, tujuan kemerdekaan dan perdamaian Palestina jauh panggang dari api, maka Indonesia secepat mungkin harus angkat kaki dari BoP.

0 Response to "Polemik Board of Peace, Konsolidasi Prabowo, dan Solusinya"
Post a Comment