Setelah sukses menumbangkan Presiden
Nicolas Maduro di Venezuela melalui operasi militer terukur dan kemudian
berhasil meredakan isu pencaplokan Greenland yang menuai penolakan dari negara-negara
Barat yang menjadi sekutunya. Geopolitik terkini menunjukkan bahwa Amerika Serikat
(AS) sedang mempertimbangkan kemungkinan melakukan tindakan politik militer di
Iran. Krisis politik domestik Iran yang menewaskan lebih dari 6.300 demonstran Iran
(BBC, 31/1/2026) adalah pembuka jalan dari adanya manuver AS berencana
menyerang Iran. Di samping juga ada alasan lainnya, seperti program nuklir Iran
dan sikap Iran yang anti Israel.
![]() |
| Sumber Gambar: globalfirepower.com |
Berdasarkan pemberitaan internasional, kapal-kapal militer AS seperti kapal induk USS Abaraham Lincoln dan kapal-kapal perusak lain sedang disiagakan di sekitar perairan Iran. Para prajurit AS hanya tinggal menunggu perintah dari tuan mereka, Donald Trump. Sementara pada waktu bersamaan, Iran yang menjadi target ancaman, melalui pemimpin mereka, menyampaikan, bahwa Iran tidak akan tinggal diam jika diserang AS. Mereka akan membalas setiap serangan yang menimpa mereka. Bahkan, Iran dikabarkan akan menggelar latihan perang selama dua hari (1—2 Februari 2026) di Selat Hormuz (The Times of Israel, 29/1/2026).
Secara diplomatik, Presiden AS
Donald Trump memberikan sinyal untuk membuka adanya pembicaraan dengan Iran. Menurutnya,
Iran lebih memilih membuat kesepakatan daripada menghadapi tindakan militer AS
(BBC, 31 Januari 2026). Menanggapi AS, Menlu Iran, Abbas Araghci merespon
bahwa Iran terbuka bernegosiasi dengan AS dengan menjunjung tinggi prinsip
saling percaya dan menghormati. Bahkan, Pejabat Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani
terbang khusus ke Rusia untuk bertemu Presiden Putin guna mendiskusikan isu internasional
dan Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa program nuklir Iran ditujukan untuk
tujuan damai, bukan untuk membangun senjata nuklir.
Hingga saat ini, tensi ketegangan
di sekitar perairan Iran tampak naik turun. Namun, kecenderungannya mulai
mereda seiring dengan adanya terobosan antara pihak Iran-AS. Mereka membuka saluran
diplomasi. Namun demikian, baik Iran maupun AS masih tetap waspada jika segala
kemungkinan terburuk terjadi. Keduanya kini sama-sama menjaga diri. AS dengan
segala armada perangnya dilaporkan sudah mendekati Iran. Begitupun Iran yang
sudah memasang kuda-kuda jika serangan AS benaran terjadi. Secara hitung-hitungan,
berdasarkan data global fire power 2026, kekuatan militer AS dan Iran cukup
timpang. Secara peringkat kekuatan militer, AS menempati peringkat pertama dari
145 negara dengan indeks kekuatan 0,0741 alias sempurna. Sementara Iran menempati
peringkat 16 dari 145 negara dengan indeks kekuatan militer 0,3199.
Semakin kecil indeksnya, semakin
sempurna kekuatan militer suatu negara. Melihat data ini, tidak mengejutkan
jika Iran tampak menghindari konfrontasi militer dan memilih jalur diplomasi
dengan AS. Iran sudah mengukur betul kekuatan mereka. Salah satu kelemahan Iran
di sektor pertahanan udara. Berdasarkan data, total pesawat tempur AS sebanyak
1,791 alias berada di peringkat pertama. Sementara total pesawat tempur Iran
sebanyak 188 dan menempatkan Iran di peringkat 15. Sementara di sektor matra
laut, AS masih tampak superior atas Iran. AS memiliki armada tempur sebanyak
465, sementara hanya 109. AS juga memilik kapal induk sebanyak 11 unit,
sementara Iran tidak memiliki kapal induk. AS memiliki kapal selam sebanyak 66,
sementara Iran hanya memiliki 25 kapal selam. AS memiliki 83 kapal perusak,
sementara Iran tidak memiliki. AS memiliki 27 kapal korvet, sementara Iran hanya memiliki
3 kapal korvet.
Kalkulasi strategis ini membukakan mata dan telinga siapa pun, betapa AS sangat dominan dalam hal militer. Keunggulan di sektor militer inilah yang kerapkali menjadi senjata ampuh yang efektif menaikkan posisi tawar AS dalam hubungan dengan negara-bangsa lain di muka bumi ini. AS dengan kekuatannya militernya, bisa menekan negara lain, melakukan intervensi politik militer terhadap negara berdaulat seperti yang dilakukan AS terhadap Venezuela 3 Januari 2026. Bahkan, dengan dominasi militernya, AS dapat menggertak negara-bangsa lain seperti yang saat ini sedang dihadapi Iran. Negeri Persia itu kini sedang dikepung dengan kekuatan militer AS. Menghadapi kondisi pelik seperti ini, pilihannya ada dua. Iran komitmen dengan ideologi perjuangannya yang anti-Amerika, anti-Israel, melanjutkan program nuklir mereka atau kompromi dengan AS dengan konsekuensi tunduk dan kompromi dengan permintaan AS. Misal, program nuklir Iran yang mengarah pada senjata nuklir dihentikan, berdamai dengan Israel, dan sebagainya. Atau ada deal di luar dugaan serta skenario. Iran memilih yang mana? Hanya waktu yang akan menjawab.

0 Response to "Gonjang-Ganjing Perang Iran-AS dan Kalkulasinya"
Post a Comment