Rabu, 31 Desember 2025 hari ini
adalah ujung dari perjalanan panjang umat manusia berada di tahun 2025. Menutup
perjalanan 365 hari di tahun 2025 yang akan segera berlalu dalam hitungan jam ini,
saya akan mencoba menyoroti satu hal pokok yang telah terjadi di tahun 2025 dengan
harapan hal ini dapat menjadi bahan refleksi yang mencerahkan.
Indonesia sukses menutup tahun
2025 dengan kerja keras jumpalitan untuk bangkit dari bencana ekologis yang
menimpa tiga provinsi sekaligus, yaitu Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan
Sumatra Barat. Banjir bandang dan longsor yang menyapu tiga provinsi tersebut
berdasarkan data resmi pemerintah yang dapat diakses melalui website Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), https://gis.bnpb.go.id/bansorsumatera2025/,
sedikitnya telah menewaskan 1141 jiwa, 58 kabupaten/kota terdampak, 162 orang
hilang, dan 395,8 ribu jiwa mengungsi. Secara fisik bangunan, sebanyak 166.925
rumah mengalami rusak dengan variasi: 71.445 rumah mengalami rusak ringan,
41.925 rumah mengalami rusak sedang, dan 53.555 rumah mengalami rusak berat. Sebanyak
215 fasilitas kesehatan rusak, 3.188 fasilitas pendidikan rusak, dan 803 rumah
ibadah rusak, 34 jembatan terputus, dan 80 jalan penghubung terputus.
![]() |
| Sumber gambar: Yusuf Wahil/Mighty Earth/AFP |
Data ini menjadi penerang bahwa
bencana tersebut sungguh-sungguh berdampak besar terhadap kehidupan umat
manusia yang hidup di lokasi dan sekitar bencana. Bagi orang-orang waras yang
memiliki jiwa kritis, bencana alam yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatra
bukanlah kebetulan. Ia adalah akibat dari sebab panjang ulah-ulah tangan
manusia yang dengan serakah merusak ekosistem dan habitat alam yang ada di
pulau tersebut. Data Kompas yang dirilis pada 12 Desember 2025, menyebut bahwa sepanjang
tahun 1990—2024, hutan seluas 1,2 juta hektar di Aceh, Sumatra Utara, dan
Sumatra Barat telah lenyap dengan perincian: per tahunnya 36.305 hektar hutan
hilang, dan seluas 99,46 hektar hutan hilang setiap harinya.
Fakta ini tak ayal membuat siapa
pun yang bernalar logis semakin tersadarkan bahwa Indonesia di ambang kehancuran.
Jika semua lahan dijadikan objek eksploitasi pembangunan, hak-hak alam seperti
daerah aliran sungai tidak difungsikan sebagaimana mestinya, hutan-hutan
lindung produktif dibabat untuk kepentingan ekonomi jangka pendek seperti perkebunan,
pertanian, illegal loging, pertambangan, dan perumahan, maka tinggal menunggu
waktu saja lonceng kebinasaannya.
Hal yang patut disayangkan, dalam
kondisi bangsa masih berduka akibat bencana alam besar yang terjadi di Sumatra,
Presiden Prabowo Subianto dalam rapat percepatan pembangunan Papua di Istana
Negara, pada 16 Desember 2025, malah mengeluarkan pernyataan yang secara gamblang
mengingingkan adanya pembukaan lahan-lahan baru di Papua. Dengan dalih mencapai
target swasembada energi, Prabowo mencanangkan Papua untuk ditanami sawit. Sebuah
anomali yang menunjukkan betapa negeri ini tidak mau belajar dari apa yang sudah
terjadi. Tragedi alam besar yang jelas-jelas terbukti menghancurkan tiga provinsi
besar di Sumatra seperti tidak cukup meyakinkan penguasa atau siapa pun yang
memiliki otoritas politik bahwa kerusakan alam, pembabatan lahan, dan hilangnya
ekosistem hutan dampaknya benar-benar dapat membinasakan dan merugikan baik
secara materiil maupun nonmateriil. Ingat, Papua merupakan benteng terakhir
hutan Indonesia yang kondisinya saat ini sedang terancam akibat keserakahan dan
salah kelola.
Jika ambisi mengejar tujuan
jangka pendek seperti swasembada energi dan pangan tetap dilanjutkan dengan
mengorbankan kerusakan alam dan lingkungan Papua, maka, tinggal tunggu saja
akibatnya. Saya tidak membayangkan Papua akan seperti yang terjadi di Sumatra.
Namun, mencegah tentu jauh lebih baik daripada harus mengalami penderitaan pedih
akibat alam murka.
Indonesia memang luas, kaya
sumber daya alam, serta hutannya melimpah. Namun, semuanya hanya omong kosong
karena nikmat dan anugerah Tuhan itu tidak dijaga disyukuri secara berimbang
antara aktivitas membangun, melestarikan, dan menanam. Saya memperhatikan bencana
alam saat ini terjadi merata di Indonesia. Sebut saja yang paling mudah
ditemui, banjir baik sedang, ringan, parah, rentan terjadi di sekitar tempat
tinggal kita karena tidak adanya aliran air (drainase) yang memadai, minimnya
ruang terbuka hijau yang mampu menyerap besarnya volume debit air hujan yang
turun deras dalam waktu lama, dan besarnya ambisi menjadikan lahan-lahan
produktif sebagai kawasan permukiman. Logikanya, jika semua lahan tanah
dibangun rumah, bagaimana daya serap tanah jika hujan turun?
Belum lagi bencana alam lain seperti banjir bandang dan longsor yang jamak terjadi akibat curah hujan tinggi, perubahan iklim, dan banyaknya hutan gundul. Tragedi-tragedi alam lain yan terjadi di tahun 2025 harusnya menyadarkan kita bahwa alam itu adalah makhluk Tuhan layaknya manusia yang sewaktu-waktu akan menyatakan sikap dan kebijakannya. Alam akan bersahabat dengan manusia yang ada di sekitarnya jika habitat dan ekosistemnya tidak dirusak. Namun, alam akan murka dan mengamuk sejadi-jadinya jika kenyamanan hidupnya diusik oleh ulah biadab para manusia serakah yang tidak tahu diri. Membuang sampah sembarangan, mencemari sungai seenaknya dengan limbah, menebangi pohon-pohon di hutan dan kawasan hijau adalah contoh konkret perilaku yang dapat memicu gejolak amarah alam. Pilihannya sekarang, mau bersahabat dengan alam atau memusuhinya? Tidak cukupkah bencana ekologi yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat?

0 Response to "Catatan Penting di Penghujung Tahun 2025"
Post a Comment