Pada akhirnya, setelah mengalami
penolakan dari para pemimpin dan publik global, dalam panggung acara World
Economic Forum, Presiden AS Donald Trump pada 21 Januari 2026 menyampaikan secara
verbal, kalau ia tidak akan menggunakan kekerasan untuk mencaplok Greenland.
Pertanyaannya, jika kekerasan militer tidak jadi dilakukan, apakah ambisi
menguasai Greenland masih ia pelihara dengan cara lain, semisal dengan cara
membeli dan cara lunak diplomasi? Hanya Trump yang tahu. Jika melihat perkembangan
terkini, seperti yang diberitakan media-media arus besar internasional, Trump
sudah melakukan negosiasi dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte. Hasilnya
hanya mereka berdua yang tahu karena belum disampaikan secara terbuka apa yang
telah disepakati terkait Greenland.
Namun, mengamati indikasi yang tampak,
terkait rencana penguasaan Greenland, Trump sepertinya masih berambisi pulau
bersalju itu menjadi bagian dari Amerika Serikat dengan alasan pertahanan dan
keamanan. Sebagai tindak lanjut dari sikap Trump yang melunak, Trump juga
membatalkan ancaman pemberlakuan tarif dagang 10 persen terhadap delapan negara
sekutu yang menolak rencana pencaplokan Greenland yang sedianya mulai berlaku
pada 1 Februari 2026.
![]() |
| Sumber Gambar: the Guardian |
Ternyata, rencana Trump akan
menggunakan cara militer untuk mengambilalih Greenland dari Denmark hanya
sebatas omon-omon. Ia tidak jadi mewujudkan hal tersebut. Bisa jadi karena ia
sudah membaca dan mengetahui bagaimana respons masyarakat dunia yang begitu
resah dengan segala rencana tidak waras yang akan ia lakukan, khususnya setelah
Trump menyerang Venezuela dan menangkap Presidennya Nicolas Maduro beserta
istrinya.
Gejolak geopolitik dunia akibat
kebijakan Trump benar-benar membuat publik internasional khawatir akan
terjadinya perang berskala besar, bayangan Perang Dunia jilid III sempat
menjadi bahan diskusi pemerhati geopolitik dunia. Namun, dengan pernyataan terbuka
Trump bahwa ia tidak akan menggunakan kekerasan untuk menguasai Greenland,
tensi ketegangan antara AS dengan negara-negara sekutu penolak ambisi Trump
mulai mereda. Harga emas yang sempat naik tajam sepanjang sejarah berangsur
turun setelah pernyataan Trump yang tidak jadi menggunakan kekerasan untuk
mencaplok Greenland.
Sayangnya, persatuan NATO
terlanjur retak. Delapan negara NATO seperti Inggris, Denmark, Jerman, Belanda,
Swedia, Norwegia, Finlandia, dan Prancis, terlanjur kecewa dengan Trump. Sebelumnya,
beberapa dari mereka (Jerman, Swedia, Norwegia) pernah mengirimkan pasukan
militer ke wilayah Arktik untuk melakukan pengintaian yang dimaksudkan sebagai
antisipasi melindungi wilayah tersebut dari militer AS, seandainya rencana
pencaplokan Greenland dengan operasi militer benar-benar diwujudkan Trump.
Selain itu, sebagian besar negara-negara yang tidak mendukung pencaplokan Greenland menolak bergabung dengan organisasi internasional baru bentukan Trump bernama Board Peace. Negara-negara seperti Inggris, Prancis, Norwegia, Swedia, Slovenia merupakan deretan negara yang secara tegas menolak untuk menjadi anggota Board of peace yang diluncurkan Trump dalam forum World Economic Forum di Davos, Swiss, 22 Januari 2026. Organisasi NATO sebagai pakta pertahanan militer kini di ambang keretakan karena adanya kebijakan Trump yang tidak sejalan dengan anggota-anggota NATO lainnya. Belum lagi dengan sikap Trump yang sering mengeluhkan anggaran NATO yang dominan berasal dari AS, sementara negara anggota NATO yang lain dianggap Trump hanya ala kadarnya alias di bawah kontribusi pendanaan AS.

0 Response to "Kisruh Greenland, Omon-Omon Trump, dan Retaknya NATO"
Post a Comment