Antara Internasionalisme Semu dan Pudarnya Etika Internasional | Paradigma Bintang

Antara Internasionalisme Semu dan Pudarnya Etika Internasional

Akhir-akhir ini dunia tampak terlihat begitu paradoks, penuh ketidaksinkronan, kaki di kepala, kepala di kaki. Mengapa demikian? Lakon dan perilaku manusia di dalamnya lah yang menjadi penyebab dunia terkesan begitu memprihatinkan: tidak beraturan, rentan chaos, dan dipenuhi sikap egois. Di satu waktu, ada manusia berlakon pemimpin dari suatu negeri adidaya  tampil bak penyelamat umat manusia dari kisruh perang menahun. Ia tanpa canggung ikut andil mendamaikan kecamuk perang Hamas-Israel, juga perang Thailand-Kamboja untuk menunjukkan ia memiliki semangat internasionalisme atau jiwa kemanusiaan yang ingin menyelamatkan nyawa manusia dari ancaman perang. Bahkan belakangan, ia telah membentuk Dewan Perdamaian Gaza.

Antara Internasionalisme Semu dan Pudarnya Etika Internasional
Sumber Gambar: BBC

Sayangnya, di lain waktu, ia mengumbar aksi sepihak yang menabrak hukum internasional dengan menyerang negara lain (Venezuela) dan bahkan menyeret paksa pemimpin negeri tersebut beserta istrinya untuk diadili di luar wilayah hukum yang bersangkutan tanpa titah pengadilan internasional yang sah. Tak puas dengan hal tersebut, ia bahkan menjual kekayaan minyak negeri bernasib malang tersebut dan melakukan intervensi mendalam soal urusan politik pemerintahan di dalamnya. Benar-benar menujukkan hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menguasai dan siapa yang lemah maka dia mesti bersiap diperlakukan semaunya pihak yang dominan.

Belum juga puas dengan itu, ia dengan terang-terangan mendeklarasikan ingin memiliki Greenland, sebuah kawasan otonom milik Denmark yang kaya sumber daya mineral. Alasan yang diutarakan, demi menjaga keamanan-pertahanan nasional negerinya yang terusik dengan keberadaan Rusia dan China. Secara lugas, ia menyampaikan dua opsi untuk menguasai Greenland, yaitu membelinya dengan uang dan memilikinya dengan operasi militer. Hasilnya, dua rencana tersebut ditolak keras oleh rakyat Greenland dan otoritas Denmark. Penolakan juga datang dari negara-negara sekutu Barat yang tergabung dalam aliansi NATO.

Negara-negara seperti Inggris, Prancis, Jerman, Swedia, Norwegia, Finlandia, Belanda menyatakan dukungannya terhadap Denmark. Mereka kompak menentang rencana pencaplokan dan pengambilalihan Greenland. Mereka menolak karena alasan waras, menjaga tatanan dan sistem hukum internasional tegak, tidak dirusak hanya karena untuk menuruti satu entitas negara yang memiliki ambisi di luas nalar sehat. Negara-negara penolak secara konkret membuktikan komitmen dukungan terhadap Greenland dengan mengirim pasukan militer mereka ke wilayah Greenland.

Kecewa dengan nihilnya dukungan dari entitas internasional resmi seperti negara-negara sekutu untuk memiliki Greenland, sang pengendali negeri adidaya secara blak-blakan, tanpa sungkan menebar ancaman. Negerinya akan memberlakukan tarif dagang sebesar 10 persen kepada delapan negara yang menolak ambisi pencaplokan Greenland yang akan berlaku efektif per 1 Februari 2026 dan meningkat menjadi 25 persen per 1 Juni 2026. Apa-apan ini! Dunia diperlakukan seenaknya seperti rumah pribadi yang dapat disetting sesuai selera karena berangggapan tidak akan ada yang keberatan. Benar-benar amoral, jauh dari semangat internasionalisme serta abai dengan komitmen menciptakan dunia yang stabil dan berkelanjutan.

0 Response to "Antara Internasionalisme Semu dan Pudarnya Etika Internasional"

Post a Comment