Menulis Esai Indonesia Mengajar | Paradigma Bintang

Menulis Esai Indonesia Mengajar

Menulis esai adalah prasyarat mutlak bagi setiap kandidat yang ingin bergabung dengan Indonesia Mengajar sebagai Pengajar Muda. Sebagaimana kredo dan komitmennya, bahwa Indonesia Mengajar mencari calon pemimpin masa depan Indonesia yang peduli dengan kondisi kebangsaan, maka setiap kandidat wajib menuliskan esai dalam bentuk menjawab 10 pertanyaan dengan format esai naratif yang jumlah katanya terbatas. Berikut ini adalah contoh jawaban esai yang pernah saya isi saat mendaftar sebagai Pengajar Muda.

Baca juga Tips Menulis Essay Indonesia Mengajar

Menulis Esai Indonesia Mengajar
Momen mengajar anak SD di Tanjungkarya Samarang Garut

Ceritakan momen atau kejadian yang akhirnya membuat Anda memutuskan untuk mendaftar sebagai Pengajar Muda! (Maksimum 600 kata)hu

Saya pernah menjadi Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan (PSP3) selama dua tahun (2014-2016), sebuah program kepemimpinan dan kepeloporan pemuda dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora RI). Saya ditugaskan di sebuah desa bernama Tanjungkarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Selama memainkan peran sebagai PSP3, saya menemukan begitu banyak problematika kehidupan yang membuat hati dan jiwa saya tergerak untuk kemudian memberikan solusi pencerah yang bisa berdampak positif bagi perbaikan kualitas hidup warga masyarakat tempat di mana saya mengabdi.

Di desa yang saya gerakkan, pola pikir mayoritas warga tidak semaju desa lain yang lebih dulu berkembang dan terbuka. Akibatnya, sektor vital seperti pendidikan dan kesehatan bisa dibilang cukup memprihatinkan. Pendidikan masih dipandang sebagai sesuatu yang tidak terlalu prioritas, dampaknya adalah sering terjadi angka putus sekolah pada siswa, jumlah siswa yang melanjutkan pendidikan ke jenjang tinggi bisa dihitung alias minim. Banyak di antara anak-anak kampung yang putus sekolah atau sekadar puas sebagai tamatan SMP/SMA yang kemudian menganggur dan menjadi buruh kasar. Di sektor kesehatan, kesadaran warga akan pentingnya pola hidup sehat juga tidak kalah minim. Sebagai contoh, hanya 20 persen warga desa yang memiliki jamban sehat.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, saya memprioritaskan program kerja saya selama dua tahun di sektor pendidikan, kesehatan, dan kepemudaan. Tujuan saya tidak lain adalah membangun paradigma warga desa agar bisa mengejar ketertinggalan dan sejajar dengan desa-desa lain yang sudah maju. Untuk mewujudkan program prioritas tersebut, saya wujudkan dengan langkah-langkah riil berikut:

Sektor pendidikan: saya alokakasikan waktu maksimal tiga kali dalam seminggu untuk mengajar di SD SMP, dan Madrasah Diniyyah. Menjadi kebahagiaan dan kepuasan tersendiri bisa berinteraksi dengan anak-anak kampung, mengajar dan mendidik mereka akan nilai-nilai hidup, semangat, perjuangan, integritas, dan pentingnya pendidikan dalam meraih masa depan yang lebih cerah.

Sektor kesehatan: saya gerakkan kader-kader Posyandu desa, otoritas Pos Kesehatan desa (Poskesdes), Bidan desa untuk bersama-sama mengedukasi warga akan pentingnya hidup sehat seperti perlunya BAB di tempat tertutup, memiliki jamban sehat, menekan angka kematian ibu dan bayi, serta pentingnya menjaga anak dari bahaya narkoba.
Sektor Kepemudaan: Saya gerakkan oganisasi Karang Taruna Desa setelah sekian lama pasif, membina mereka, mendampingi, dan memfasilitasi mereka serta mengajak mereka menjadi agen perubahan desa.

Setelah berakhirnya kontrak sebagai PSP3, saya berpikir untuk terus berkontribusi dan berdedikasi. Saya meyakini bergabung bersama Indonesia Mengajar dengan menjadi  Pengajar Muda adalah jalan terbaik untuk mewujudkan idealisme saya untuk terus mengabdi dan berkarya.

Ceritakan pengalaman Anda saat berada dalam kondisi yang menurut Anda kurang ideal dan Anda tidak memiliki pengaruh yang besar! Apa yang kamu lakukan saat itu? (Maksimum 600 kata)

Saat saya menjadi sarjana penggerak desa (PSP3) di desa yang sama sekali tidak pernah saya singgahi, dan harus berinteraksi serta mendampingi warga desa yang belum pernah saya kenal disitulah tantangan sejati yang pernah saya rasakan. Saya benar-benar dituntut bisa menjadi seorang komunikator dan mediator tangguh yang bisa meyakinkan bahwa program-program yang saya canangkan didukung oleh pihak-pihak terkait seperti Kepala Desa, aparat peemrintah desa, dan tokoh masyarakat.

Pernah suatu waktu saya memiliki inisiatif untuk menyampaikan usulan warga bahwa di lingkungan RW mereka mendesak untuk segera dibangun jalan lingkungan guna memudahkan akses warga berlalu lalang. Saya yang saat itu orang baru, hanya sebatas menjalankan tugas dan misi kepemudaan memberanikan diri untuk menyambungkan aspirasi warga dengan menemui Kepala Desa, berdialog dengan Kades dan menyampaikan keinginan warga terkait jalan lingkungan yang mereka butuhkan. Meski direspon agak kurang memuaskan karena kebetulan posisi jalan lingkungan yang diusulkan warga tidak berada di daerah basis konstituen Kades saya mencoba meyakinkan bahwa semua warga desa memiliki hak yang sama untuk menikmati pembangunan tanpa terkecuali apakah ia pendukung atau bukan.

Saya mempersuasi Kades bahwa jika usulan jalan lingkungan ini terlaksana, hal ini justru akan menjadi kredit poin yang bisa menguntungkan Kades, dapat meraih simpati publik. Di luar dugaan, kades yang awalnya enggan untuk mendukung kemudian beralih mendukung rencana tersebut. Saya pun kemudian menggelar musyawarah bersama RT-RW serta tokoh masyarakat untuk membentuk kepanitiaan. Setelah itu, saya buatkan proposal untuk diajukan kepada Kades dan Dinas terkait.

Ceritakan pengalaman ketika Anda menjual ide atau sebuah pemikiran kepada banyak orang dan pada akhirnya mereka benar-benar menjalani ide Anda dengan senang hati! (Maksimum 600 kata)

Saya pernah beberapa kali menjual gagasan besar dan dapat diterima banyak pihak serta terimplementasi dengan baik, berikut ceritanya.

Saat saya menjadi Sarjana Penggerak Desa (PSP3), gebrakan pertama yang lakukan adalah saya menghidupkan organisasi kepemudaan desa (Karang Taruna Desa) yang sudah lama mati dan tidak berjalan. Saat itu, saya mengajak dialog beberapa pemuda desa dengan mempersuasi mereka untuk sadar dan ikut berpartisipasi dalam pembangunan desa dan pengawasannya. Berawal dari situ, saya fasilitasi mereka untuk mengaktifkan kembali oraganisasi Karang Taruna Desa. Rupanya ide ini disambut positif para pemuda, saya usulkan untuk segera diadakan musyawarah pemuda desa guna menentukan kepengurusan organisasi Karang Taruna. Mendapat dukungan, saya kemudian menemui Kepala Desa (Kades) guna menyampaika inisiatif saya guna menggelar muktamar pemuda desa sebagai cara efektif mengaktifkan kembali organisasi Karang Taruna Desa yang sudah lama vakum. Ternyata Kades setuju dan mendukung penuh ide ini, maka segeralah saya menyusun undangan yang juga ditandatangani Kades ditujukan kepada 11 ketua RW untuk mengutus delegasi pemuda sebanyak maksimal lima orang untuk menghadiri muktamar pemuda desa. Hasilnya, hampir setiap RW mengirimkan utusan pemuda terbaiknya. Selain itu, tujuan utama muktamar pemuda desa, yaitu terbentuknya kepengurusan baru organisasi Karang Taruna Desa.

Cerita berikutnya adalah saat saya menggagas acara seminar pendidikan politik bagi kaum muda dan masyarakat. Inisiatif ini muncul sebagai langkah lanjutan dari berhasilnya pembentukan pengurus baru Karang Taruna Desa. Acara ini melibatkan banyak pihak seperti Camat, Kades, tokoh masyarakat, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), RT-RW, dan pers. Hal ini penting diselenggarakan untuk memberikan pemahaman kepada para pemuda dan masyarakat bahwa esensi politik selain tentang kepemimpinan adalah juga tentang cara mencapai kepentingan bersama. Karena itu, partisipasi dan kontrol publik sangat penting guna memastikan bahwa agenda-agenda politik di bidang pembangunan dan kesejahteraan rakyat benar-benar terealisasikan. Saya juga menjadi pembicara dalam acara seminar tersebut. Acara ini berhasil terselenggara dengan baik berkat kerjasama semua pihak.

Berikutnya adalah saat saya menginisiasi acara peningkatan kapasitas bagi aparat pemerintah desa se Kecamatan Samarang. Saya tidak sendirian, untuk mensukseskan pelaksanaan acara saya melibatkan pemuda Karang Taruna Desa dan mahasiswa IPDN yang sedang praktek kerja di desa saya bertugas. Acara ini dilangsungkan di Aula Desa Tanjungkarya. Acara ini dimaksudkan untuk mensosialisasikan UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa, Pelatihan Tata Naskah Dinas, dan Pelatihan IT. Semua item acara di atas disusun guna menyongsong era pembangunan desa yang berkualitas. Acara ini dihadiri oleh Camat sebagai pembicara pertama, aktivis sosial-pembangunan desa, dan Praja IPDN yang sedang melangsungkan Bakti Karya Praja. Acara berjalan lancar, meskipun masih ada sebagian undangan yang apatis. Setidaknya, inilah upaya riil yang bisa saya lakukan sebagai PSP3 untuk memberikan bekal, pemahaman, sekaligus pencerahan baru bagi pegawai-pegawai pemerintahan desa dalam kaitannya dengan spirit dan amanat undang-undang desa.

Ceritakan pengalaman Anda saat harus bertindak cepat untuk memanfaatkan sebuah kesempatan yang terbatas, dan tapi tidak dapat berkonsultasi dengan orang lain! (Maksimum 600 kata)

Adalah saat ada seorang warga petani mengadu kepada saya ihwal dirinya yang ditolak menjadi anggota Kelompok Tani Desa binaan Dinas Kabupaten oleh pihak ketua kelompok. Setelah mendengar aduan petani tersebut, saya putuskan untuk segera menemui ketua kelompok tani desa, menyampaikan aduan yang saya dengar dan berharap bahwa jangan ada diskriminasi terhadap warga petani yang ingin berkembang dan maju. Saya sampaikan bahwa setiap warga memiliki hak yang sama untuk menikmati akses layanan pemerintah di segala bidang termasuk di bidang pertanian. Di luar dugaan, tak lama setelah pertemuan saya dengan ketua kelompok tani, saya mendegar laporan bahwa petani yang sebelumnya ditolak telah diterima menjadi anggota kelompok.

Selain itu, saya juga pernah langsung segera bertindak, pernah saat saya berjalan menuju sekolah untuk mengajar, saya mendapati ketua RT bersama beberapa orang warga sedang memperbaiki jalan setapak yang rusak dengan menambal dan menyemen. Di luar dugaan, saat saya perhatikan sepertinya semennya kurang cukup, mendapati hal tersebut, saya putuskan untuk memberikan sumbangan ala kadarnya untuk membeli tambahan semen.

Selain itu, saya pernah mendapati pengalaman bahwa pagar istana desa tempat saya tinggal roboh akibat tersenggol motor. Mengetahui hal tersebut, saya segera bertindak membawa pagar tersebut ke tukang las yang kebetulan posisinya beberapa meter dari lokasi istana berada. Tidak butuh waktu lama, kira-kira satu jam kemudian pagar yang semula roboh kembali berdiri tegak.

Pernah juga saya harus bertindak cepat dengan membantu panitia acara pernikahan warga, saat itu awalnya saya diundang hadir dalam acara akad nikah seorang warga desa. Saat saya hadir, seorang panitia tiba-tiba menghampiri saya, ia menyampaikan bahwa panitia yang bertugas membaca barzanji tidak bisa hadir. Karena itu, ia meminta saya untuk membaca barzanji guna menyambut tamu dan rombongan mempelai laki-laki. Dengan sigap saya putuskan untuk mengambil peran tersebut.

Ceritakan pengalaman ketika gagasan atau proyek yang Anda yakini bermanfaat, tidak diterima oleh orang lain yang berpengaruh besar terhadap terlaksananya gagasan atau proyek tersebut! Apa yang Anda lakukan dalam menghadapinya? (Maksimum 600 kata)

Gagasan besar yang pernah saya utarakan dan tidak berhasil terwujud adalah pendirian perpustakaan desa dan Badan Usaha Milik Desa (BumDes) di tempat di mana saya pernah bertugas. Saya pernah mendorong Kades untuk mengalokasikan sebagian anggaran dana desa untuk pengadaan buku dan pembangunan perpustakaan desa. Saya juga mendorong Kades untuk membangun BumDes berbasis potensi desa sebagai wadah penggerak aktivitas perekonomian warga desa. Dalam prakteknya, usulan saya tidak terwujud. Saya bisa memaklumi kegagalan ini karena mungkin mindset Kades berbeda dengan saya yang meyakini bahwa pembangunan sejati dimulai dari pembangunan manusianya.

Respon yang saya lakukan adalah saya mencoba untuk sabar sambil lalu mencari jalan tengah sebagai solusi alternatif. Untuk itu, saya giat masuk ke sekolah-sekolah memberikan kelas inspirasi dengan berbagai macam tema. Salah satunya adalah tema tentang pentingnya membaca dalam upaya membuka cakrawala berpikir dan meningkatkan derajat pengetahuan. Sebagai pengganti gagalnya usulan pendirian BumDes, saya membentuk kelompok usaha pemuda produktif yang beranggotakan anak-anak muda yang menganggur untuk produktif, saya himpun mereka dalam wadah Kelompok Usaha Pemuda Produktif (KUPP). Saya dampingi mereka dan saya beri mereka insentif modal untuk merintis usaha kecil berbasis kuliner perdesaan, namanya ‘Pungpa Tanjung’. Singkatan dari tepung beras dan kelapa. Cara ini cukup ampuh dalam upaya membentuk mindset produktif anak muda kampung. Mereka mendapatkan hasil hanya setelah berjerih payah karena prinsipnya adalah bagi hasil. Jika untung dibagi rata, rugi ditanggung bersama.

Ceritakan pengalaman saat Anda harus menyesuaikan cara pendekatan atau cara Anda bekerja karena terbatasnya sumber daya dan perubahan prioritas dalam pekerjaan! (Maksimum 600 kata)

Pengalaman saya saat mendapati fakta bahwa terdapat keterbatasan sumber daya dalam pekerjaan, pertama saya mencoba untuk berdamai dengan kondisi tersebut, saya menerima untuk kemudian dicarikan jalan keluarnya. Di desa saya bertugas dan kebetulan juga saya tinggal di salah ruang kosong di kompleks kantor desa tersebut, akses sinyal komunikasi dan internet relatif susah. Namun begitu, saya tidak menyerah dengan keadaan. Saya pernah mencoba menyusun proposal dan menghubungi pihak Telkom Kabupaten Garut meminta bantuan akses internet. Saya sampaikan bahwa demi pemerataan pembangunan utamanya layanan internet, desa yang saya bina kiranya perlu juga mendapat perhatian sebagaimana desa-desa tetangga yang selangkah lebih maju. Namun, proposal saya ditolak, saya mencoba tegar sambil tetap berjuang.

Saya sampaikan kepada aparat pemerintah desa bahwa untuk sementara proposal bantuan pengadaan internet saya ditolak dan saya motivasi mereka bahwa meski bekerja secara offline harus tetap berkualitas. Saya terus damping dan fasilitasi mereka sebisa yang saya mampu. Jujur, untuk keperluan online saat itu saya harus berjalan sepanjang kiloan meter menuju desa seberang yang sudah lebih dulu ada internetnya. Saya bahagia dengan hal ini, dan saya menerima apa adanya.

Ceritakan pengalaman Anda saat berhasil menyelesaikan proyek atau gagasan meskipun ada banyak oposisi atau kendala dari rekan kerja di organisasi/perusahaan tempat Anda bekerja! (Maksimum 600 kata)

Saya bertugas sebagai Sarjana Penggerak Desa (PSP3) di Kabupaten Garut bersama 11 orang rekan kerja. Masing-masing disebar ke tiga kecamatan, di setiap kecamatan ada dua desa yang ada PSP3-nya. Setiap desa terdapat dua PSP3. Dalam sebuah kerja tim, pastilah ada dinamika, ada pro-kontra, termasuk saat saya bertugas. Saya pernah menggagas acara tingkat kecamatan yang secara kepanitiaan melibatkan rekan kerja saya dari desa penugasan lain. Acara yang saya gagas berupa refleksi kepemudaan bertemakan "Menjadi Pemuda Berkarakter Demi Terwujudnya Pemuda Indonesia yang Agamis, Berprestasi. Berdaulat, dan Berdikari". Acara ini digagas untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober tahun 2015.

Pada awalnya, saat saya melontarkan ide dan gagasan untuk menggelar acara, respon rekan-rekan saya beragam. Ada yang pro, mendukung, ada yang apatis, masa bodoh, adapula yang yang tidak bersikap. Kepada mereka saya sampaikan bahwa acara inti penting untuk digelar sebagai wujud kita sebagai pemuda yang harus peduli dengan bangsa. Apalagi tahun itu adalah tahun terakhir kami bisa menikmati Hari Sumpah Pemuda sebagai PSP3. Meski tidak bulat, yang pro dengan saya siap mendukung dan mensukseskan acara. Akhirnya, saya membentuk kepanitiaan, segera bertindak dengan menyusun proposal dan surat undangan serta juga melibatkan pihak-pihak seperti Camat, KNPI, tokoh masyarakat, otoritas terkait, insan pers, siswa-siswi sekolah se Kecamatan Samarang, dan tak ketinggalan anggota DPR RI Komisi IX . Di luar dugaan respon para undangan luar biasa, mereka antusias dan mengapresiasi acara yang saya gagas bersama teman-teman saya.

Ceritakan pengalaman ketika Anda memperbaiki suatu kondisi / sebuah sistem karena Anda merasa ada yang kurang baik atau bisa dikembangkan di sana! (Maksimum 600 kata)

Saat saya bertugas sebagai Sarjana Penggerak Desa (PSP3), saya pernah mendapati adanya sistem pelayanan publik yang kurang baik. Saat warga pergi ke kantor desa untuk mengakses pelayanan publik semisal pembuatan KTP, surat izin, rekomendasi, surat keterangan, dan sebagainya ada oknum pemerintah desa yang meminta imbalan berupa materi uang dan sejenisnya. Menyikapi fenomena seperti ini, saya mencoba melakukan pendekatan persuasif kepada pihak yang bersangkutan bahwa yang namanya pelayanan publik itu sifatnya gratis dan tidak boleh memeras warga dengan bentuk apapun. Saya yakinkan bahwa menjadi abdi negara sebagai aparat desa adalah untuk melayani, membantu, dan mempermudah warga bukan untuk mempersulit dan menghambatnya. Tidak puas dengan itu, saya juga melakukan monitoring langsung bagaimana pelayanan publik dijalankan oleh otoritas desa. Saya juga tidak segan-segan untuk langsung ikut memberikan pelayanan guna memastikan warga mendapat hak-haknya sebagaimana mestinya.

Ceritakan pengalaman ketika Anda memiliki tanggung jawab yang besar terhadap suatu tugas dan ada banyak tantangan serta hambatan yang datang tanpa bisa Anda prediksi! (Maksimum 600 kata)

Adalah saat saya bertugas sebagai ketua panitia seminar dan sosialisasi strategi hidup sehat untuk warga desa yang mencakup tiga hal: strategi memerangi narkoba, strategi menekan angka kematian bayi dan ibu, strategi menciptakan lingkungan yang sehat. Di luar dugaan, pihak-pihak yang mendukung acara dan saya libatkan pada hari H pelaksanaan acara tiba-tiba berhalangan hadir tanpa berita. Dampaknya, acara molor dua jam, dan membuat para undangan merasa kecewa. Jujur, saat itu, saya merasa stres, namun masih terus mencoba untuk tenang sambil memikirkan solusi terbaiknya seperti apa.

Di tengah situasi genting dan darurat itu, saya bangun komunikasi dua arah baik dengan undangan yang ada maupun dengan pihak yang tiba-tiba berhalangan hadir. Untuk diketahui, yang berhalangan hadir ketika itu adalah Camat dan Kepala Desa. Saya menelpon Camat menanyakan keberadaan beliau, dan yang bersangkutan memohon maaf karena ada tugas dadakan ke Kabupaten. Sebagai gantinya, Camat mengutus Sekretaris Camat untuk menggantikannya. Adapun dari pihak Kepala Desa yang ternyata dalam kondisi sakit, diputuskan untuk diwakili oleh pihak Babinsa dan salah seorang ketua RW. Dengan komunikasi intensif, akhirnya rasa tegang berangsur reda, meski molor dua jam acara yang sudah dirancang selama dua bulan ini pun bisa berjalan lancar dan sukses .

Proses Direct Assesment akan melalui beberapa tahap. Apakah anda bersedia membiayai tahap-tahap itu secara pribadi? Ceritakan alasannya! (Misal: Transportasi menuju lokasi tes, Medical Check Up, Pembelian perlengkapan pribadi menuju training, dll)  (Maksimum 250 kata)

Iya, saya bersedia membiayai tahapan-tahapan yang diperlukan dalam proses direct assessment meski harus dengan menggunakan uang pribadi. Alasan saya hanya satu, saya ingin melanjutkan pengabdian saya untuk ummat, untuk bangsa dan negara yang akan selalu saya cintai. Materi bukan penghalang untuk mengabdi, selagi jantung masih berdetak, selagi kesempatan terbuka luas, saya berkomitmen untuk mendedikasikan apa yang bisa saya berikan. Hidup adalah tentang dedikasi dan karya, dengan bergabung menjadi Pengajar Muda melalui program Indonesia Mengajar saya optimis idealisme saya bisa terus hidup dan menyala. 

0 Response to "Menulis Esai Indonesia Mengajar "

Post a Comment