Ihwal Presiden Ketujuh | Paradigma Bintang

Ihwal Presiden Ketujuh

        Setelah melalui proses politik panjang yang cukup melelahkan, akhirnya bangsa Indonesia kini memiliki Presiden baru. Pilpres kali ini sungguh terasa sangat berbeda dengan Pilpres-Pilpres sebelumnya, hal ini tidak lain karena Pilpres 2014 bisa dibilang paling seru dan menantang. Semua pihak terlibat, masyarakat terbelah menjadi bipolar, yaitu kutub Prabowo-Hatta dan kutub Jokowi-JK. Yang menarik adalah, sekalipun masyarakat terbelah, derajat demokrasi mereka bisa dibilang naik kelas dari sebelumnya. Pilpres kali ini benar-benar merupakan wujud dari demokrasi yang menggembirakan, terlepas dari adanya fitnah dan kampanye hitam yang sempat merebak, namun harus diakui masyakat kita pada Pilpres 2014 semakin rasional.    

Presiden Ketujuh RI
Munculnya relawan-relawan heroik, siap memenangkan pasangan Capres-Cawapres pilihan hati meski tanpa dibayar, bahkan ada yang secara cuma-cuma mau menyumbangkan uang untuk urunan biaya kampanye pasangan kandidat idola mereka beberapa waktu lalu benar-benar menggambarkan kondisi sesungguhnya kualitas berdemokrasi mayarakat Indonesia yang semakin matang. Inilah demokrasi partisipatif yang patut kita banggakan, pertahankan dan kalau perlu ditingkatkan.

Tanggal 22 Juli menjadi awal lahirnya Presiden terpilih 2014, melalui rapat pleno terbuka akhirnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) secara resmi menetapkan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai Presiden-Wakil Presiden 2014-2019. Presiden Ketujuh yang baru terpilih itu bernama Joko Widodo, seorang yang sebelumnya berkarir sebagai Pengusaha, Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta. Terpilihnya Jokowi sebagai Presiden sejatinya menjadi pelajaran bagi semua anak bangsa, bahwa siapapun memiliki hak yang sama menjadi orang nomor satu di Republik tercinta ini. Siapa yang menyangka sosok Jokowi bisa menjadi RI 1? Sosok ndeso yang menurut lawan-lawan politiknya tidak pantas menjadi Presiden. Toh, kenyataan menyatakan sebaliknya, Jokowi berhasil keluar sebagai pemenang Pilpres dengan perolehan suara 70.997.833 atau 53,15 persen suara sah nasional, mengungguli Prabowo Subianto dengan perolehan  62.576.444 atau 46,85 persen (lihat di www.kpu.go.id)

Memang benar kata Presiden terpilih-Jokowi, bahwa “kita memang tidak bisa menolak takdir,” artinya: boleh saja orang menfitnah, menghujat dan membuat strategi rapi untuk menjegal langkahnya namun kalau Sang Pemilik Kuasa tidak berkehendak maka sia-sia saja semua yang dilakukan. Di atas kuasa manusia merencanakan sesuatu, ada kuasa Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun, demikian pula yang dialami Jokowi, betapapun manusia menghalanginya menjadi Presiden dengan serangan berbagi macam fitnah, kampanye hitam yang bertubi-tubi, koalisi tambun lawan-lawan politik, namun berkat kerja keras nyata, doa, dan kuasa Tuhan pada ujungnya ia ditakdirkan menjadi Presiden Ketujuh RI.
Terlepas dari kuasa Tuhan, tentu ada faktor lain yang mengantarkannya menjadi pemegang singgasana pemerintahan lima tahun mendatang. Fenomena kemenangan Jokowi harus menjadi pelajaran bagi semua elemen bangsa bahwa menjadi sosok terpilih tidak asal jadi begitu saja. Butuh proses yang cukup, dan semua itu berawal dari niat dan pola pikir yang benar. Untuk apa berpolitik? Buat apa nyemplung ke pertarungan politik terbuka? Kalau niat dan dan pola pikir mengenai politik sudah betul, bahwa politik tidak lain hanya merupakan wadah pengabdian bukan yang lain maka jalan lapang tentu akan terbuka. Hal ini sungguh lekat dengan Presiden Ketujuh RI, tanpa bermaksud berlebihan, penulis memandang kemenangan Jokowi tidak lepas dari ketulusan niat dan pola pikir beliau untuk mengabdi bagi bangsa ini. 

Semangat pengabdian yang sudah beliau buktikan ketika menjadi Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, serta keserderhanaan hidup yang beliau tunjukkan sehari-hari inilah yang mengantarkannya memenangkan hati dan suara rakyat Indonesia. Tanpa dikomando dan dimobilisasi, rakyat dengan suka cita bersedia menyalurkan ide-ide kreatif dan bersatu untuk mendukung langkah politik Jokowi, hadir dalam setiap kampanye politiknya, antusias menyalurkan hak suaranya, dan bersedia mengawal proses Pilpres hingga tuntas. Suatu pemandangan yang belum pernah terjadi pada Pilpres-Pilpres sebelumnya.

Sosok Jokowi yang apa adanya, tidak tersandera dengan kepentingan-kepentingan yang membelenggu gerak langkah pengabdiannya membangunkan apatisme politik masyarakat yang sebelumnya alergi, pesimis dengan pemerintahan produk politik menjadi peduli, tergugah dan terpanggil untuk menjadi bagian dari solusi persoalan bangsa. Harapan mereka kembali menyala dengan hadirnya Jokowi, mereka dan penulis sendiri menaruh harap pada Jokowi. Karena bagaimanapun negeri yang memiliki segudang persoalan ini tentu harus dipimpin orang yang tepat; yaitu sosok kompeten, teruji, jujur, tegas, humanis dan pekerja keras. Hasil akhir Pilpres menunjukkan bahwa rakyat berkeyakinan bahwa semua aspek ini hanya ada pada Jokowi. Setidaknya itulah kenyataan yang tercermin dari kemenangan Jokowi atas rival terberatnya Prabowo.

Penulis bangga dengan kematangan politik masyarakat Indonesia yang semakin dewasa, bisa membedakan mana sosok yang nothing to lose, mana sosok yang transaksional, semuanya terjawab tuntas dalam Pilpres 2014. Dan sejarah politik Indonesia kali ini membuktikan, bahwa hanya sosok terbaik yang layak memimpin Indonesia. Jokowi, dialah Presiden Ketujuh yang dikehendaki rakyat Indonesia. Selamat!

Artikel ini ditulis Juli 2014 

8 Responses to "Ihwal Presiden Ketujuh"

  1. Bangga punya presiden jokowi... (y) semoga bisa membawa indonesia ke arah yg lebih baik gan.... nice artikel...

    ReplyDelete
  2. Makasih mas, jarang ngeblog / online belakangan.
    Iseng jalan - jalan eh nyantol kesini.
    Saya hanya bisa bilang anda seorang blogger sejati... salut mas.
    Salam jabat erat dari saya.
    Suara Bamega

    ReplyDelete
  3. Makasih mas, jarang ngeblog / online belakangan.
    Iseng jalan - jalan eh nyantol kesini.
    Saya hanya bisa bilang anda seorang blogger sejati... salut mas.
    Salam jabat erat dari saya.
    Suara Bamega

    ReplyDelete
  4. ane sampe sekarng masih menaruh respect sama pak jokowi karna real yag ia lakukan dengan segala kekurangan karna manusia kan nggak ada yang sempurna

    ReplyDelete