Realisme Ofensif dalam Perang AS-Israel vs. Iran 2026, Dampak, dan Hikmahnya | Paradigma Bintang

Realisme Ofensif dalam Perang AS-Israel vs. Iran 2026, Dampak, dan Hikmahnya

Serangan udara masif yang dilancarkan Amerika Serikat (AS)-Israel ke pusat strategis pemerintahan Iran di Teheran semenjak 28 Februari 2026 dan berlangsung hingga kini pada akhirnya diakui pemerintah Iran telah menewaskan pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei dan pemimpin-pemimpin penting Iran lainnya seperti Menteri Pertahanan Iran, Aziz Nasirzadeh, Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Iran, Mohammad Pakpour, Sekretaris Dewan Pertahanan Iran, Ali Samkhani, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Abdolrahim Mousavi. Mereka dipastikan gugur akibat serangan gabungan AS-Israel.

Sampai di sini, cerita tentang pemimpin tertinggi Iran dan para pemimpin kunci Iran lainnya telah selesai. Namun demikian, ada hal lain yang belum usai. Adalah menyangkut refleksi mengapa Iran bisa kecolongan lagi dan lagi untuk kesekian kalinya? Bukankah pada Juni tahun 2025 Iran pernah terlibat perang sengit melawan Israel yang juga dibantu Amerika Serikat dan polanya hampir sama, mereka menyerang duluan.

Realisme Ofensif dalam Perang AS-Israel vs. Iran 2026, Dampak, dan Hikmahnya
Sumber Gambar: BBC

Bukankah sebelumnya juga pernah terjadi pembunuhan terhadap Ismail Haniyeh, pemimpin politik Hamas di bumi Iran oleh agen Israel? Mengapa Iran tidak belajar dari kejadian-kejadian tersebut? Mengapa sektor pertahanan udara dan intelijen Iran yang tampak rapuh tidak diperkuat dan diberi perhatian super ekstra?

Amerika Serikat dan Israel mengetahui betul kelemahan Iran yang satu ini dan menjadikannya sebagai pintu untuk menghabisi Iran melalui agen rahasia mereka seperti Mossad dan CIA. Belakangan terungkap, ternyata mereka sukses meretas serta memanfaatkan celah kamera pengintai/CCTV lalu lintas yang ada di jalan raya Iran untuk memata-matai Khamenei. Dari sini, mereka tahu persis kebiasaan dan aktivitas kesehariannya, menyangkut juga tentang kapan dan di mana ia berada.

Serangan gabungan AS-Israel pada Sabtu pagi 28 Februari 2026 yang langsung menewaskan Khamenei menurut kabar sedianya tidak akan dilakukan pada waktu tersebut. Namun, intelijen Israel mengetahui bahwa pada pagi hari itu, Khamenei beserta para pemimpin kunci Iran sedang berkumpul bersama di kompleks perkantoran Khamenei sehingga Israel berkoordinasi dengan AS untuk menyerang Iran.

Tujuan mereka adalah segera melenyapkan para pemimpin Iran di waktu yang tepat dengan memanfaatkan kelengahan musuh mereka. Dan benar saja, di pagi hari di bulan suci Ramadan yang cerah itu, serangan udara AS-Israel mendadak pecah di Teheran dan berhasil menewaskan para pemimpin Iran.  Fakta tentang brutalitas serangan udara AS dan Israel ini dalam konteks realisme, sebuah perspektif utama dalam hubungan internasional yang memandang bahwa negara bertindak atau melakukan apa pun yang dianggap penting dalam upaya mengejar kepentingan nasionalnya dengan instrumen utama berupa kekuatan militer.

Salah satu varian realisme yang juga terkenal adalah realisme ofensif, yaitu paham realisme yang mendorong adanya langkah-langkah ofensif seperti serangan militer dalam mewujudkan tujuan dan kepentingan suatu negara. Apa yang dilakukan AS dan Israel dengan menyerang Iran secara kasat mata terkategorikan sebagai wujud nyata realisme ofensif. Mereka menginisiasi serangan lebih dulu dengan melakukan serangan militer secara membabi buta ke titik-titik strategis dengan memanfaatkan celah pertahanan udara Iran yang dianggap lemah dan mudah diterobos oleh kekuatan udara AS-Israel. Tak pelak, mereka meluncurkan pesawat-pesawat tempur seperti F-22 Raptor, B-2 Spirit, B-11B Lancer, F/A-18 Super Hornet, F-35I Adir untuk menjatuhkan bom-bom pemusnah presisi ke wilayah Iran.

Perang Israel-AS vs Iran tahun 2026 ini sampai saat ini masih sebatas pertempuran udara, di mana hasilnya untuk sementara waktu operasi gabungan AS-Israel sukses menewaskan pemimpin tertinggi Iran bersama pemimpin kunci Iran lainnya. Sementara di sisi Iran, mereka hanya sebatas membalas serangan Israel-AS dengan meluncurkan drone dan rudal ke arah Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS yang ada di negara-negara Timur Tengah, menyerang negara-negara Teluk yang menjadi sekutu AS. Sayangnya, Iran tidak melakukan serangan udara dengan mengerahkan jet tempur canggih ke arah Israel dan AS sebagaimana yang dilakukan mereka kepada Iran. Ini cukup anomali. Apakah Iran takut atau sengaja menahan diri sehingga untuk sementara waktu Iran cukup mengerahkan drone dan rudal saja? Hanya Iran yang tahu.

Sampai saat ini, perang panas Israel-AS vs Iran dengan memanfaatkan kecanggihan serangan udara telah menewaskan sebanyak 1332 warga Iran dan berdampak terhadap melonjaknya harga minyak dunia ke posisi 100 USD per barrel untuk pertama kalinya semenjak tahun 2022 (BBC, 9 Maret 2026). Inilah ongkos mahal perang, siapa pun yang memilih perang sebagai jalan meewujudkan tujuan politik maka harus siap sedia dengan segala konsekuensinya. Ekonomi sudah pasti akan terdampak karena ketika stabilitas politik dan keamanan dunia terganggu maka secara otomatis akan merambat pada sektor ekonomi.

Dengan ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran yang merupakan 20 persen jalur distribusi minyak dunia, maka segalanya akan dibuat rumit. Kapal-kapal tanker pengangkut minyak harus menempuh jalur lain yang lebih jauh, lebih aman, dan tentunya akan lebih mahal sehingga berimbas pada membumbungnya harga minyak dunia. Jika harga minyak dunia naik maka otomatis akan mengerek kenaikan harga kebutuhan pokok seperti pangan dan sebagainya.

Negara bangsa lain yang sedang tidak dalam kondisi berperang, sejatinya perlu belajar dari perang brutal AS-Israel vs Iran. Perang kapan pun dapat terjadi tanpa diduga, maka mempersiapkan diri adalah keniscayaan. Dalam konteks perang masa kini, memiliki ketahanan dan keunggulan pertahanan udara dalam analisis saya merupakan keharusan bagi suatu entitas negara bangsa yang berkeinginan untuk survive dan memenangi perang modern.

Selain itu, negara bangsa mesti juga memiliki sistem intelijen yang kuat, tidak dapat diretas atau ditembus, dan waspadai orang-orang di sekitar yang berpotensi menjadi  musuh dalam selimut. Kita dapat melihat bagaimana AS-Israel memborbardir pertahanan udara Iran, membobol sistem pertahanan dan intelijen Iran yang berakibat serius pada gugurnya para pemimpin Iran. Apresiasi juga perlu diberikan kepada Iran yang dalam kondisi diserang oleh dua kekuatan besar (AS-Israel) dengan persenjataan canggih hingga kini mampu bertahan dan memberikan perlawanan yang tak kalah sengit. Meski pada akhirnya, perang hanya menyisakan arang bagi yang menang dan menyisakan abu bagi yang kalah, kita tidak perlu lengah sedikit pun. Maka bersiaplah!

0 Response to "Realisme Ofensif dalam Perang AS-Israel vs. Iran 2026, Dampak, dan Hikmahnya"

Post a Comment