Balada Tak Makan Ikan Laut | Paradigma Bintang

Balada Tak Makan Ikan Laut

Ini barangkali anomali, aneh sendiri, dan mungkin tak lazim. Lalu masalahnya apa? Masalahnya adalah saya tidak bisa makan ikan laut di tempat yang melimpah ikan dan segala aneka kelezatan laut. Saya lahir dan tumbuh di lingkungan pesisir. Mengonsumsi ikan laut sebenarnya merupakan hal lumrah saya lakukan ketika kecil. Setiap hari, saya selalu makan ikan laut. Tiada hari, tanpa ikan laut. Keseharian lauk pauk saya tidak lepas dari ikan laut. Masalah kemudian mengubah segalanya ketika keanehan menyerang saya saat saya memakan ikan laut sehingga saya memutuskan untuk berhenti memakannya.


Balada Tak Makan Ikan Laut


Saya sudah sekian lama menderita hal ini, tidak dapat menikmati hasil tangkapan laut yang sangat mudah saya dapatkan. Apalagi saat saya hidup di pulau melimpah ikan di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, mau ikan apa saja ada. Hanya, lagi-lagi saya tidak dapat menikmatinya. Mengapa tidak dapat menikmati? Jawabannya karena tubuh saya menolak ikan laut dan segala isi kemewahan laut. Menolak di sini tidak berarti ketika saya harus makan ikan laut lantas ikannya gak mau masuk ke mulut dan perut saya. Bukan, tubuh saya tetap bisa menerima masuknya ikan laut melalui mulut saya. Hanya saja, setelah masuk ke dalam perut dan mengalami proses metabolisme dampak memakan ikan laut baru akan terasa. Apa wujudnya? Bentuknya, kulit gatal-gatal, berjerawat dan mengganggu penampilan. Hal ini sungguh sangat menyiksa dan tidak nyaman. Padahal makan ikan laut rasanya enak, bikin kecanduan. Namun, dampak yang ditimbulkan justru merusak. Ini hanya terjadi pada saya, belum tentu orang lain. Akibat kondisi seperti ini saya sudah lama menghindari ikan laut. Padahal, kalau boleh jujur ingin selalu mengonsumsinya.

Saya tidak tahu bagaimana caranya agar saya bisa menikmati ikan laut seperti sediakala alias tidak ada keanehan dan penyakit kulit yang timbul setelah saya memakan ikan laut. Bagi yang sudah terbiasa makan ikan laut, mengetahui kisah ini mungkin akan geleng-geleng kepala atau malah menertawakan saya atau malah merasa tidak normal melihat apa yang saya alami. Bagi saya tidak mengapa, saya sudah terbiasa dengan persepsi orang-orang. Setiap jiwa memiliki problem dan solusinya masing-masing. Hal penting bagi saya adalah saya mengomunikasikan masalah dan kebutuhan saya secara terbuka, selebihnya mari saling menghormati dan menghormati.

 

0 Response to "Balada Tak Makan Ikan Laut"

Post a Comment