Bajingan Akademis Berkedok UI | Paradigma Bintang

Bajingan Akademis Berkedok UI

Beberapa hari terakhir, jagat dunia online dihebohkan dengan beredarnya video seorang mahasiswa magister keperawatan Universitas Indonesia (UI) yang membuat propaganda agar menolak dan tidak memilih Ahok. Dalam video berdurasi satu menit tiga puluh delapan detik itu, mahasiswa bernama Boby Febri Krisdiyanto menyerang Ahok secara blak-blakan, menuduh Ahok kafir, tidak pantas menjadi pemimpin, dan karenanya tidak boleh dipilih dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017. 

Pelacur Akademis UI
Bagi saya dan orang-orang berpikiran waras, akademis, menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan, sikap mahasiswa magister tersebut jelas sangat memalukan, mencoreng nama baik almamater dan mencederai rasa persaudaran sebagai sesama anak bangsa yang sepakat untuk menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai pijakan hidup berbangsa-bernegara. 

Inilah potret nyata mentalitas sebagian agen akademis kita; rapuh, keropos, dan berpola pikir picik.  Berkuliah di kampus ternama sekelas UI rupanya tidak menjamin mindset seseorang bisa berpikir sebagaimana lazimnya; dewasa, bijak, dan mencerahkan. Ini malah menggelapkan dan provokatif. Tidak mengejutkan jika kemudian pihak rektorat UI segera memanggil yang bersangkutan dan memintai pertanggungjawaban karena telah mengatanasnamakan UI dalam video yang dibuatnya.

Untuk diketahui, mahasiswa rasis ini membuat video berjudulkan "Gerakan Pembebasan UI Tolak Ahok". Parahnya, dalam video yang diupload ke media sosial itu ia melakukan orasi penolakan Ahok berjaket almamater dengan rektorat UI sebagai backgroundnya. Sangat wajar, pihak rektorat UI memanggil mahasiswa brengsek tersebut karena ia jelas melanggar Pasal 8 Ketetapan Majelis Wali Amanat No 008/SK/MWA-UI/2004 tentang Tata Tertib Kehidupan Kampus. Dalam pasal itu, disebutkan bahwa civitas akademika UI dilarang melakukan diskriminasi atas dasar agama, ras, etnisitas, jender, orientasi seksual, orientasi politik, dan cacat fisik.

Menurut perkembangannya, mahasiswa naif ini mau mengakui kesalahan dan kebodohannya telah melakukan pelanggaran yang dibuktikan dengan membuat pernyataan di atas materai Rp. 6.000 perihal permintaan maaf yang ditujukan kepada pimpinan UI karena telah membuat video yang meresahkan warga UI dan masyarakat umum serta komitmen dia yang tidak akan mengulangi perbuatan yang memalukan itu. 

Apapun itu, nasi sudah terlanjur menjadi bubur, video sudah terlanjur beredar, dan semuanya sudah terjadi. Ahok juga sudah mengetahui dan memberikan komentar bahwa mahasiswa rasis seperti Boby anti nasionalis, tidak layak kuliah di universitas negeri yang dibiayai oleh anggaran belanja negara. Hal ini benar-benar antitesis dengan semangat Pancasila yang menjamin keberagaman dan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa. Bahkan, Ahok menyarankan baiknya yang bersangkutan pindah saja ke Timur Tengah. 

Pelajaran berharga dari preseden ini adalah, semakin tinggi derajat pendidikan seseorang, maka harus semakin matang pula cara berpikirnya, bukan malah sebaliknya. Buktikan dunia kampus adalah kawah candradimuka lahirnya pencerah-pencerah masa depan Indonesia, bukan penggelap dan penabur benih-benih keretakan bangsa. UI itu kampus besar, barometer pendidikan tinggi Indonesia, janganlah dirusak dengan hal-hal konyol dan memalukan seperti ini. Masih ada waktu untuk berbenah dan memperbaiki diri. 

Saya sangat menghargai jerih payah para pendiri bangsa, yang dengan segala pengorbanan mau bersusah payah mendirikan Indonesia sebagai negara-bangsa yang menjunjung tinggi asas keberagaman. Bersatu dalam perbedaan. Kalaulah memang tidak suka, tidak sreg dengan Ahok, janganlah segitunya, pilihlah cara-cara elegan yang tidak menjatuhkan dan menyerang secara membabi buta hanya kerena perbedaan suku, agama, ras, antar golongan (SARA). Tulisan ini dibuat sebagai respon atas ketidakdewasaan seorang mahasiswa picik berkedok UI.

9 Responses to "Bajingan Akademis Berkedok UI"