Cerita Wisuda UI Depok | Paradigma Bintang

Cerita Wisuda UI Depok

Setelah setahun lebih saya tidak main ke Depok, Februari 2016 saya bisa singgah lagi di kota ini. Sabtu, 6 Februari 2016 saya berkesempatan menyaksikan acara yang empat tahun sebelumnya pernah saya alami, Februari 2012 saya pernah menikmati momen tersebut. Pada hari Sabtu siang menjelang sore itu saya menghadiri wisuda sarjana adik saya, baginya acara ini terasa begitu spesial dan istimewa, perjuangan akademisnya selama tiga setengah tahun hari itu mencapai puncaknya. Ia resmi diwisuda rektornya sebagai Sarjana Kedokteran Universitas Indonesia. 


Bagi saya, hadir pada acara wisuda UI kemarin memberikan kesan dan nuansa tersendiri, saya seolah dibawa ke alam memori empat tahun tahun sebelumnya, di mana saya merasakan bagaimana rasanya diwisuda. Sekalipun bukan saya yang diwisuda, namun romansa dan kenangan pernah diwisuda hidup kembali saat itu. Merinding, terharu dan kangen masa-masa itu menghiasi relung perasaan, saya mesti merasakan nostalgia lama. Beranjak dari semua lamunan, wisuda Sarjana-Diploma UI yang saya hadiri itu memiliki perbedaan dan kesamaan jika dibandingkan dengan wisuda saya di UB Malang. Mau tahu ceritanya? Berikut saya ceritakan.

Wisuda di UI ternyata tidak serentak, di sana ada dua gelombang wisuda, yaitu gelombang I: Wisuda Magister, Spesialis, Profesi dan Doktor, serta Gelombang II: Wisuda Diploma dan Sarjana. Saya tidak bisa menghadiri wisuda gelombang I karena undangannya untuk wisuda gelombang II, jadi saya tidak tahu persis apa isi dari wisuda gelombang I. Hal ini berbeda dengan wisuda di UB Malang, acara wisuda berlangsung serentak dan dalam satu waktu sehingga memungkinkan wisudawan melakukan hal yang lumrah dilakukan seperti berfoto ria di lingkungan terbuka kampus usai wisuda digelar.

Pengalaman kemarin tidak demikian, saat rangkaian acara wisuda sarjana-diploma berlangsung, hujan turun begitu derasnya sampai menjelang petang. Momen foto kebahagiaan di ruang terbuka kampus usai wisuda jelas tidak memungkinkan dilaksanakan. Mayoritas wisudawan dan keluarganya praktis banyak yang buru-buru pulang dan masuk ke mobil guna menghindari derasnya hujan. Selain itu, wisuda sarjana-diploma di UI tidak memanggil semua wisudawan untuk maju ke panggung utama untuk bersalaman dengan rektor dan dekan. Yang dipanggil hanya perwakilan per Fakultas sebanyak dua orang, jadi bisa dibilang, wisudawan yang tidak beruntung menjadi perwakilan tidak memiliki foto kenangan bersalaman dengan rektor atau dekan selaku pihak yang mewisuda. 

Hal ini berbeda dengan wisuda yang saya alami di UB Malang, semua wisudawan dipastikan dipanggil ke panggung kehormatan untuk bersalaman dengan rektor dan menerima ijazah dari dekan. Dan momen itu diabadikan oleh fotografer professional yang disewa UB sehingga setiap wisudawan juga memiliki dua foto kenangan bersama rektor dan dekan. Dan hal lain yang membedakan adalah rangkaian wisuda UI hanya sekali, yaitu rentetan acara wisuda cukup di balairung bersama rektor tanpa ada acara ramah tamah di lingkup fakultas bersama dekan dan jajaran dekanat. Usai rektor meninggalkan panggung wisuda dan acara ditutup oleh MC, acara otomatis berakhir tanpa sesi lanjutan. Praktis wisudawan dan segenap undangan berhamburan tak karuan, apalagi dibarengi hujan yang derasnya luar biasa. 

Foto bersama Sarjana Kedokteran UI
Hal ini berbeda dengan pengalaman saya di UB Malang, setelah diwisuda rektor dan seru-seruan dengan wisudawan dari fakultas lain dalam satu ruangan bersama bernama Samantha Krida (Sakri), seluruh wisudawan mengikuti rangkaian acara lanjutan di fakultas masing-masing. Isinya pelepasan oleh dekan dan ramah tamah santai antara wisudawan dan seluruh undangan bersama jajaran fakultas yang diakhiri dengan acara jamuan makan siang. Apapun itu, ternyata ada hal yang serupa dari wisuda UI dengan pengalaman saya empat tahun sebelumnya, rata-rata peserta wisuda menyelesaikan studinya dengan waktu tiga setengah tahun, persis dengan apa yang saya alami. Barangkali ini kesamaannya, menghadiri acara wisuda UI di Balairung UI Depok beberapa waktu lalu, seakan membawa saya ke alam memori 25 Februari 2012. Terlepas dari hal yang berbeda, saya ucapkan selamat! Saatnya berpikir dan bertindak untuk negeri dan semesta.

3 Responses to "Cerita Wisuda UI Depok"

  1. Saya mahasiswa di UI. Sebenarnya untuk prosesi bersalaman dengan Rektor dan berfoto dengan Rektor sudah dilakukan saat Gladi Resik, sehingga saat wisuda hanya perwakilan fakultas saja sebanyak 2 orang yang naik ke atas panggung (biasanya mahasiswa dengan IPK tertinggi di fakultas) dan bertemu rektor secara simbolis. Jadi waktu yang dibutuhkan untuk wisuda kira2 2 jam karena sudah dipersingkat saat Gladi Resik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh iya..sy menulis ini hanya sebatas perbandingan sj dg apa yang pernah sy alami..Ternyata setiap kampus punya kebijakan masing-masing..Terima kasih telah berkunjung ke blog www.paradigmabintang.com

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete